Mohon tunggu...
Topik Pilihan
 MENCARI JEJAK FAUNA YANG TERSISA DARI HILANGNYA RUANG HIJAU

MENCARI JEJAK FAUNA YANG TERSISA DARI HILANGNYA RUANG HIJAU

Kompasianer, apakah di lingkunganmu suara burung di pagi hari kini sudah mulai jarang terdengar? Atau kupu-kupu, burung, capung, bahkan serangga kecil yang dulu gampang ditemukan di sekitar rumah, perlahan semakin sulit ditemukan? Tanpa disadari, di tengah padatnya pembangunan dan semakin berkurangnya ruang hijau, banyak fauna perlahan kehilangan tempat hidupnya.Padahal, taman kota, bantaran sungai, pepohonan di sekitar rumah, hingga kebun kecil di lingkungan sekitar masih bisa menjadi ruang bertahan bagi berbagai makhluk hidup, lho....Karenanya, kita harus bergerak bersama. Melalui program Lestarisiana edisi tengah tahun ini Kompasiana ingin mengajak sekaligus menantang kamu untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dengan mengamati ruang hijau yang masih tersisa di dekat tempat tinggalmu.Bersama seorang Kompasianer yang juga seorang Biodiversity Surveyor, Annisa Ramadani, kita sama-sama bergerak melalui Topik Pilihan Kolaborasi hingga bikin gerakan bersama di penghujung program.Coba perhatikan lagi lingkungan di sekitarmu. Apakah masih ada burung yang singgah di pepohonan? Apakah sungai, taman, atau semak dan pohon di sekitar rumahmu masih menyimpan jejak kehidupan fauna? Atau justru ruang hijau itu perlahan menghilang bersama makhluk hidup yang dulu pernah hidup di sana?Kamu bisa membagikan hasil observasi, pengalaman, maupun keresahanmu tentang kondisi ruang hijau dan jejak fauna di sekitarmu.Tak hanya itu, kamu juga berkesempatan mendapatkan total saldo e-Wallet senilai Rp500 ribu untuk 5 artikel terpilih.Jangan lupa sematkan label Ruang Hijau yang Tersisa (menggunakan spasi) pada setiap konten yang kamu buat, ya!Karena lewat cara sederhana seperti melihat, memperhatikan, dan peduli pada ruang hidup yang tersisa, kamu telah berkontribusi untuk menjaga lingkungan.

 Susahnya Tagih Utang ke Teman...

Susahnya Tagih Utang ke Teman...

Hi Kompasianer, Mimin mau cerita sedikit.Mimin punya pengalaman buruk soal memberi utang ke teman. Namanya Jonas, teman sejak masa sekolah dasar, yang sudah Mimin anggap seperti saudara sendiri saking dekatnya.Awalnya cuma ingin membantu karena dia datang dengan wajah panik dan cerita yang terdengar meyakinkan.Katanya cuma pinjam sebentar dan akan segera dikembalikan setelah gajian. Karena sudah kenal cukup lama, mimin akhirnya percaya dan meminjamkan uang tanpa banyak berpikir. Nominalnya? Lumayan besar untuk yang gajinya pas-pasan seperti mimin.Tapi...Setelah dipinjamkan, semuanya mulai berubah pelan-pelan. Chat mulai lama dibalas, telepon jarang diangkat, sampai akhirnya muncul rasa tidak enak setiap kali ingin menagih. Yang tadinya sering ngobrol jadi canggung. Yang biasanya bercanda tiap hari malah seperti saling menghindar.Dari situ mimin sadar, memberi utang ke teman ternyata memang tidak sesederhana kelihatannya, tidak semua sanggup.Kompasianer, pernah mengalaminya juga? Punya pengalaman yang mirip-mirip Mimin?Banyak orang punya "standar" sendiri sebelum memberi utang. Ada yang hanya mau meminjamkan ke teman dekat, orang yang sudah dipercaya, atau yang jelas pekerjaannya.Ada juga yang punya aturan khusus, seperti nominal pinjaman tidak boleh besar, harus ada batas waktu pengembalian, atau hanya meminjamkan uang yang siap direlakan kalau tidak kembali.Nah, kalau soal memberi utang, Kompasianer termasuk yang selektif juga?Mari Kompasianer, bagikan pengalamanmu dengan menambahkan label Teman Berutang (pakai spasi) pada tiap konten yang dibuat!
LAPORKAN KONTEN
Alasan