Hi Kompasianer, Mimin mau cerita sedikit.
Mimin punya pengalaman buruk soal memberi utang ke teman. Namanya Jonas, teman sejak masa sekolah dasar, yang sudah Mimin anggap seperti saudara sendiri saking dekatnya.
Awalnya cuma ingin membantu karena dia datang dengan wajah panik dan cerita yang terdengar meyakinkan.
Katanya cuma pinjam sebentar dan akan segera dikembalikan setelah gajian. Karena sudah kenal cukup lama, mimin akhirnya percaya dan meminjamkan uang tanpa banyak berpikir. Nominalnya? Lumayan besar untuk yang gajinya pas-pasan seperti mimin.
Tapi...
Setelah dipinjamkan, semuanya mulai berubah pelan-pelan. Chat mulai lama dibalas, telepon jarang diangkat, sampai akhirnya muncul rasa tidak enak setiap kali ingin menagih. Yang tadinya sering ngobrol jadi canggung. Yang biasanya bercanda tiap hari malah seperti saling menghindar.
Dari situ mimin sadar, memberi utang ke teman ternyata memang tidak sesederhana kelihatannya, tidak semua sanggup.
Kompasianer, pernah mengalaminya juga? Punya pengalaman yang mirip-mirip Mimin?
Banyak orang punya "standar" sendiri sebelum memberi utang. Ada yang hanya mau meminjamkan ke teman dekat, orang yang sudah dipercaya, atau yang jelas pekerjaannya.
Ada juga yang punya aturan khusus, seperti nominal pinjaman tidak boleh besar, harus ada batas waktu pengembalian, atau hanya meminjamkan uang yang siap direlakan kalau tidak kembali.
Nah, kalau soal memberi utang, Kompasianer termasuk yang selektif juga?
Mari Kompasianer, bagikan pengalamanmu dengan menambahkan label Teman Berutang (pakai spasi) pada tiap konten yang dibuat!