Mohon tunggu...
Slamet Samsoerizal
Slamet Samsoerizal Mohon Tunggu... Fiksi dan Nonfiksi

Penggagas SEGI (SElalu berbaGI) melalui tulisan.

Selanjutnya

Tutup

Sociocultural Pilihan

Sunyi Membaca

29 Mei 2026   17:43 Diperbarui: 29 Mei 2026   23:48 23
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pasar buku bekas dan langka di Kwitang Jakarta Pusat  (Sumber:  ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti) 

Ada yang ganjil di zaman ini: manusia semakin banyak membaca, tetapi semakin sedikit memahami. Setiap hari kita dijejali teks, dari layar ponsel, notifikasi, hingga potongan kalimat yang meluncur tanpa jeda. Dunia seperti tak pernah kehabisan kata. Namun justru di tengah kelimpahan itu, makna terasa menguap. Kita membaca cepat, tetapi tidak tinggal.

Di titik inilah, buku pelan-pelan kembali menemukan martabatnya. Bukan sebagai benda kuno, bukan pula sebagai simbol kecerdasan, melainkan sebagai ruang sunyi yang mulai langka. Sebuah ruang tempat manusia bisa duduk, berhenti, dan---yang paling penting---tidak diganggu.

Fenomena bibliomania baru, yang diam-diam tumbuh di berbagai penjuru dunia, sesungguhnya bukan sekadar kegemaran mengoleksi buku. Ia lebih menyerupai gerakan bawah tanah: perlawanan sunyi terhadap kegaduhan digital.

Orang-orang mulai berburu buku lama, manuskrip, arsip, bahkan coretan tangan di pinggir halaman. Bukan karena mahalnya, tetapi karena jejaknya. Ada sesuatu yang tak bisa diberikan oleh layar: bekas sentuhan manusia.

Buku yang menguning itu menyimpan waktu. Ia menua, seperti kita. Ia rapuh, tetapi justru karena itu terasa hidup.

Bandingkan dengan fail digital: rapi, bersih, dan anehnya tak punya umur. Ia tidak pernah lelah, tidak pernah berubah, dan karena itu juga tidak pernah benar-benar hadir.

Kita mungkin sedang hidup dalam ilusi kemajuan, tetapi kehilangan kedalaman. Ahli neurolinguistik Maryanne Wolf pernah mengingatkan,  otak manusia berubah mengikuti cara membaca. Ketika manusia terlalu lama terbiasa membaca digital secara cepat dan terputus-putus, kemampuan deep reading perlahan melemah. Kita menjadi mahir memindai, tetapi gagal menyelami. Informasi masuk deras, tetapi refleksi tertinggal.

Mungkin itulah sebabnya masyarakat modern tampak mudah marah, cepat tersinggung, tetapi sulit memahami konteks. Kita hidup di zaman komentar pendek dan simpulan instan. Semua orang ingin segera bereaksi sebelum sempat berpikir.

Padahal membaca sejati selalu membutuhkan jeda. Nietzsche pernah menulis,  hanya pikiran yang lahir dari berjalan kaki yang memiliki nilai. Hari ini, mungkin kalimat itu bisa diperluas: hanya pikiran yang lahir dari membaca perlahan yang layak dipercaya.

Membaca di layar mengajarkan kita satu kebiasaan baru: tergesa. Mata kita tidak lagi menyelam, melainkan melompat. Kita memindai, bukan memahami. Kita mencari inti, tetapi kehilangan makna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sociocultural Selengkapnya
Lihat Sociocultural Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun