Suara ritsleting ransel Andi terdengar nyaring di tengah sunyinya parkiran kampus yang mulai gulita. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 20.45. Kepalanya masih terasa berdenyut lambat, pening setelah hampir empat jam bertarung dengan revisi bab akhir skripsi bersama teman-teman kelompoknya. Sebagai mahasiswa semester akhir, waktu tidur adalah barang mewah yang jarang ia miliki.
"Ndi, kamu balik lewat mana?" tanya Bimo sambil menstarter motor matic-nya.
"Lewat jalur potong Desa seberang aja, Bim. Yang tembusan dekat pohon beringin kembar itu. Biar cepat sampai rumah, asli otakkku sudah mau meledak ini," jawab Andi sambil mengancingkan jaket dan memakai helmnya.
Gerakan tangan Bimo yang hendak menarik gas mendadak terhenti. Alisnya bertaut rapat. "Hah? Jalur dalam itu? Jangan, Ndi. Mending kamu memutar lewat jalan raya saja, agak jauh sedikit tidak apa-apa."
Andi terkekeh, menganggap kekhawatiran temannya terlalu berlebihan. "Lho, kenapa? Lewat jalan raya mutarnya jauh banget, Bim, bisa setengah jam sendiri karena sering macet di pertigaan luar. Kalau lewat jalur dalam, sepuluh menit juga aku sudah bisa rebahan di kasur."
"Bukannya apa-apa, Ndi. Sepupuku ada yang mengajar di sekolah daerah dekat situ. Katanya, kalau sudah di atas jam 9 malam, warga lokal saja tidak ada yang berani lewat jalan itu. Konon sering ada kejadian aneh, apalagi buat orang luar daerah kayak kamu. Mending cari aman saja," ujar Bimo dengan nada serius, tidak ada kesan bercanda di matanya.
Andi melirik jam digital di dashboard motor bebek Supra terbarunya. Jarum jam hampir menyentuh angka sembilan tepat. Dia menepuk setang motornya yang masih mulus mengilat itu dengan penuh rasa percaya diri.
"Halah, zaman sekarang kok masih percaya takhayul begitu, Bim. Lagian kamu lihat sendiri kan, motorku ini Supra terbaru, mesin injeksi, masih gres dari diler. Mana ada sejarahnya motor sehat begini tiba-tiba mogok tanpa sebab? Sudah ya, aku duluan. Duluan, Bim! Assalamualaikum!"
Andi menarik tuas gasnya. Mesin bebek Supra-nya menderu halus, membelah malam dengan kecepatan sedang. Andi tidak pernah tahu, bahwa keputusannya malam itu akan menjadi malam paling panjang dalam hidupnya.
Tepat ketika ban motor Andi melewati gapura pembatas desa, jarum jam di dashboard berganti angka: 21.01.
