Mohon tunggu...
Mari Monroena
Mari Monroena Mohon Tunggu... Penulis

Menulis, menyair, dan meracik makna. Memiliki kegemaran mengganggu kenyamanan dan mengarsipkan keganjilan hidup. I have faith in humanity.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Menghitung Tanah

29 Mei 2026   18:33 Diperbarui: 29 Mei 2026   23:45 20
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

jika pada akhirnya malam menjemput paksa,
dan napasku larut dalam semesta,
aku berdiri di tepi waktu, bertanya pada angin:
untuk apa semua lelah ini dikemas dalam ingin?

kita berlari mengejar angka, pangkat, dan nama,
membangun istana dari puing-puing kecemasan serupa.
lalu, esok, tubuh ini terbujur kaku, dingin, dan fana.
apa arti tawa yang pernah kita tukar dengan air mata?

jika ujungnya adalah tanah sepetak nan sepi,
untuk apa kemarin kita merajut mimpi setengah mati?
apakah hidup ini hanya panggung sandirawa nan sarkas,
di mana kita dipaksa menulis, lalu dihapus tanpa bekas?

Baca juga: Puisi: Tanah Diam

namun, dengar...
mungkin arti hidup bukan pada garis akhir yang mutlak.
bukan pada seberapa megah nisan yang kelak tegak.
hidup adalah tentang detak yang sempat kita bagi,
tentang jejak hangat yang tertinggal di hati sepi.

kita hidup bukan untuk abadi di dunia yang fana ini,
tapi untuk belajar mencintai, sebelum akhirnya kembali.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun