Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Ciri Sindrom Anak Perempuan Sulung

Kompas.com, 29 Mei 2026, 10:00 WIB
Add on Google
Nabilla Ramadhian,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebagai anak perempuan pertama, banyak orang tumbuh dengan perasaan harus selalu kuat, bertanggung jawab, dan siap membantu siapa pun di rumah. Mulai dari menjaga adik, menjadi penengah konflik keluarga, hingga mengambil peran layaknya “orang dewasa kecil”, semua itu sering dianggap hal yang wajar.

Namun belakangan, pengalaman ini ramai dibicarakan di media sosial sebagai eldest daughter syndrome atau sindrom anak perempuan sulung.

Meski bukan diagnosis kesehatan mental resmi, istilah ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman emosional yang banyak dirasakan anak perempuan pertama dalam keluarga.

Terapis trauma somatik Chloë Bean, LMFT, menjelaskan bahwa kondisi ini biasanya muncul ketika seorang anak tumbuh dengan tuntutan untuk menjadi sosok penolong, bertanggung jawab, bahkan “ibu kedua” di rumah.

"Situasi tersebut kerap terjadi ketika orangtua sedang kewalahan secara emosional atau ketika anak dituntut untuk cepat dewasa," katanya mengutip Real Simple, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Kisah Para Ayah Membesarkan Anak Perempuan Tangguh dan Tak Mudah Dimanipulasi

Konselor kesehatan mental Daryl Appleton, MEd, CAGS, LMHC, EdD, menyebut kondisi ini sebagai bentuk parentifikasi, yakni ketika anak mengambil peran sebagai pengelola emosi keluarga sebelum mereka benar-benar siap menjalani tanggung jawab tersebut.

Saat anak perempuan sulung sudah dewasa dan siap hidup mandiri, ternyata ada beberapa kebiasaan yang harus mulai diubah karena berpotensi mengganggu dalam hubungan dengan pasangan.

Kebiasaan yang harus dilepas saat mulai hidup mandiri

1. Berusaha menyenangkan orang lain

Anak sulung sudah belajar sejak dini untuk menekan kebutuhan pribadi demi menjaga kedamaian keluarga. Saat dewasa hal ini terus terbawa. Contohnya, rela membatalkan niat membeli lemari baru karena orangtua meminta menggunakan perabotan warisan nenek.

"Ketika kita terbiasa berkata 'ya' padahal maksudnya 'tidak' demi menghindari konflik atau  memprioritaskan kenyamanan orang lain, akibatnya kita justru mengabaikan diri sendiri,” kata Bean.

Saat menghadapi masalah, kamu mungkin merasa cemas hingga mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, atau nyeri kronis.

Baca juga: Kartini Modern Bukan Sekadar Kuat, Ini Cara Mendidik Anak Perempuan Tangguh

2. Menyelesaikan masalah semua orang

IlustrasiFREEPIK Ilustrasi

Anak sulung sering menjadi andalan saat orang lain mengalami krisis. Entah itu sekedar meminta saran atau bahkan bantuan finansial.

“Seiring waktu, ini dapat menciptakan stres kronis, batasan yang kabur, dan hubungan di mana kamu lebih dihargai karena apa yang diberikan daripada siapa kamu sebenarnya,” tambah Bean.

Baca juga: Cara Menghadapi Saudara yang Suka Pamer saat Kumpul Keluarga

3. Terobsesi pada kesempurnaan

Tuntutan dari dalam diri membuat anak sulung merasa wajib menjadi yang terbaik, entah itu menjaga rumah selalu rapi atau memiliki banyak keterampilan.

“Beberapa anak perempuan sulung menginternalisasi keyakinan bahwa kesalahan tidak diperbolehkan, atau bahwa nilai mereka berasal dari menjadi mengesankan dan dapat diandalkan," ujar Bean.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
8 Outfit yang Menunjang Penampilan Pemilik Badan Segitiga Terbalik
8 Outfit yang Menunjang Penampilan Pemilik Badan Segitiga Terbalik
Fashion
Ilmuwan Ungkap 5 Kebiasaan yang Bikin Tubuh Tetap Sehat Saat Menua
Ilmuwan Ungkap 5 Kebiasaan yang Bikin Tubuh Tetap Sehat Saat Menua
Wellness
Madonna Pakai Jeans Sobek Lagi, Tren Fashion Era 1980-an Disebut Kembali Bangkit
Madonna Pakai Jeans Sobek Lagi, Tren Fashion Era 1980-an Disebut Kembali Bangkit
Fashion
7 Sikap Orangtua yang Membantu Anak Lebih Tenang dan Percaya Diri
7 Sikap Orangtua yang Membantu Anak Lebih Tenang dan Percaya Diri
Wellness
5 Kesalahan Mandi yang Bisa Memicu Jerawat Punggung
5 Kesalahan Mandi yang Bisa Memicu Jerawat Punggung
Beauty & Grooming
Apa Manfaat Gymnastics untuk Anak? Orangtua Atlet Cilik Ini Cerita Pengalamannya
Apa Manfaat Gymnastics untuk Anak? Orangtua Atlet Cilik Ini Cerita Pengalamannya
Wellness
5 Model Rambut Bob untuk Wanita Usia 50-an yang Bikin Tampak Lebih Muda dan Elegan
5 Model Rambut Bob untuk Wanita Usia 50-an yang Bikin Tampak Lebih Muda dan Elegan
Beauty & Grooming
Turun 25 Kg Tanpa Cardio Berjam-jam, Pelatih Ini Justru Lebih Banyak Jalan Kaki
Turun 25 Kg Tanpa Cardio Berjam-jam, Pelatih Ini Justru Lebih Banyak Jalan Kaki
Wellness
Vitamin C dan Kolagen Jadi Andalan Raline Shah Tiap Hari, Ini Alasannya
Vitamin C dan Kolagen Jadi Andalan Raline Shah Tiap Hari, Ini Alasannya
Wellness
50 Pantun Teka-teki Lucu dan Menghibur Beserta Jawabannya
50 Pantun Teka-teki Lucu dan Menghibur Beserta Jawabannya
Wellness
Aespa Ubah Total Penampilannya di Album “Lemonade”, Kini Tampil Retro dan Berani
Aespa Ubah Total Penampilannya di Album “Lemonade”, Kini Tampil Retro dan Berani
Fashion
Anak Usia 4 Tahun Ini Sudah Raih 12 Medali Gymnastics, Ini Cerita Orangtua Mendampinginya
Anak Usia 4 Tahun Ini Sudah Raih 12 Medali Gymnastics, Ini Cerita Orangtua Mendampinginya
Wellness
Apakah Hairspray Berbahaya bagi Rambut? Simak Penjelasannya
Apakah Hairspray Berbahaya bagi Rambut? Simak Penjelasannya
Beauty & Grooming
6 Perubahan Rambut saat Usia Bertambah dan Tips Mengatasinya
6 Perubahan Rambut saat Usia Bertambah dan Tips Mengatasinya
Beauty & Grooming
3 Bentuk Kacamata yang Cocok untuk Pemilik Wajah Oval
3 Bentuk Kacamata yang Cocok untuk Pemilik Wajah Oval
Fashion
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau