JEO - Peristiwa

Realita Pahit Pendidikan Anak Autis di Indonesia

Rabu, 3 Desember 2025 | 12:05 WIB

Mencari sekolah untuk anak autis di Indonesia bukan hal yang mudah. Ketika banyak pintu tertutup, apa yang bisa dilakukan?

“Maaf, ibu Mona. Kami tidak bisa lagi membiarkan Abraham bersekolah di sini,” ujar seorang guru kepada ibu yang berdiri diam di depan kelasnya. Mendengar hal itu, sang ibu hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tipis. Wajahnya tidak terlihat kaget namun menyembunyikan rasa sedih. 

Bagaimana tidak? Ucapan semacam itu sudah didengarnya dari berbagai guru di bermacam-macam sekolah. Ini adalah kali ke delapan ucapan serupa ia dengar sepanjang delapan tahun umur anaknya. Sejak Abraham berusia sekitar 5 tahun, Mona kesulitan mencarikan sekolah yang bisa mengakomodasi kebutuhan anaknya itu. Buah hatinya memang tumbuh dengan sebuah keistimewaan yang membuatnya unik di antara anak-anak lain.

Abraham mengikuti pameran lukisan didampingi Mona
dokumen pribadi
Abraham mengikuti pameran lukisan didampingi Mona

Berbeda

14 Juni 1998, Abraham lahir di Rumah Sakit Santo Borromeus sebagai anak kembar nonidentik dengan saudaranya, Jeremy. Jeremy lahir dengan berat normal 2,6 kilogram sedangkan Abraham memiliki berat di bawah rata-rata, hanya 1,9 kilogram. Keadaan ini membuat bayi itu harus dimasukkan ke dalam inkubator selama beberapa hari dan tidak mendapatkan asupan ASI sementara.

Menginjak usia 22 bulan, Mona melihat ada yang berbeda dari proses tumbuh kembang anaknya. Sejak bisa merangkak, Jeremy mulai belajar berdiri dan berjalan sambil memegang-megang dinding. Sementara Abraham lebih banyak berjinjit dan langsung berlari ke sana kemari dengan lincah. Waktu itu, Mona melihatnya sebagai hal yang positif, “Oh, anakku pintar sekali, langsung bisa berlari loh dia,” pikirnya.

Abraham juga memiliki kecenderungan untuk menyendiri, tidak suka menatap mata orang tuanya, dan tidak menanggapi hal-hal yang dibicarakan oleh Jeremy. Ketika Mona sedang membawa kedua anak kembarnya mengitari kota, Jeremy seringkali mengomentari kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang, “Itu mobil merah, itu mobil apa? Itu mobil hitam.”

Di lain sisi, Abraham justru hanya berfokus pada roda-roda mobil yang ada. Kepalanya bergerak mengikuti perputaran roda dan hanya menggumamkan suara tanpa arti. Ciri-ciri pertumbuhan yang berbeda ini terus berlangsung hingga Mona merasa ia perlu membawa anak ini ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Di saat itu, sang suami menentang usulan Mona untuk membawa Abraham ke dokter.

“Untuk apa ke dokter? Abraham baik-baik saja kok, sama aja seperti anak lain.” --ayah Abraham

“Untuk apa ke dokter? Abraham baik-baik saja kok, sama aja seperti anak lain,” ujar suaminya. Memang, secara fisik Abraham terlihat sama dengan teman-teman seusianya. Itulah mengapa sang suami pun merasa tidak ada hal yang salah dengan putranya. Namun, sebagai seorang ibu, Mona memiliki perasaan yang kuat untuk tetap membawa Abraham ke klinik anak.

Ketika Abraham berusia kurang lebih empat tahun, Mona akhirnya membawa Abraham untuk melakukan asesmen di salah satu rumah sakit besar di Jakarta tanpa sepengetahuan suaminya. Setelah asesmen tersebut selesai, diagnosa yang diberikan oleh dokter mengubah hidup Mona dan suaminya selamanya.

Perubahan dan Penyesuaian

Di ruang praktek dokter yang dingin, Mona duduk bersebelahan dengan Abraham sambil menggenggam erat tangan anaknya yang mungil. Beberapa saat berlalu dalam keheningan ketika seorang dokter masuk ke dalam ruangan tersebut membawa berbagai dokumen di tangannya, siap untuk membacakan hasil asesmen yang telah dilakukan.

“Ibu, Abraham memiliki Autism Spectrum Disorder (ASD), bukan sekadar speech delay atau keterlambatan bicara saja. ASD adalah gangguan saraf yang memengaruhi cara anak berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku,” jelas sang dokter kepada Mona.

Namun, waktu itu Mona tidak berpikir terlalu jauh mengenai diagnosa yang baru saja ia dengar. Istilah ASD sangat asing di telinganya dan tidak pernah ia temui di lingkungan sekitar sebelum hari itu. ‘Oh mungkin ini seperti sakit batuk, dikasih obat pasti sembuh. Berarti kalau terapi, nanti juga Abraham sembuh,’ pikir Mona saat itu. 

Namun seiring berjalannya waktu, Mona menyadari bahwa autisme tidak bisa ‘disembuhkan’ seperti penyakit-penyakit lain. Semenjak saat itu, hidup keluarganya berubah 180 derajat. Abraham membutuhkan terapi sensori integrasi minimal delapan jam per minggu, ditambah dengan terapi wicara, tes alergi, vitamin, dan segala macam kebutuhan diet yang harus disesuaikan.

Biayanya tidak murah, Rp50.000 untuk satu jenis alergi. Padahal, Abraham perlu menjalankan ratusan tes alergi berbeda. Angkanya sekarang jadi sulit diabaikan.

Tes tersebut mengungkapkan bahwa Abraham memiliki 48 jenis alergi yang termasuk di antaranya adalah bawang putih, bawang merah, ikan laut, dan buah-buahan yang berubah warna ketika dikupas. Dengan segala jenis alergi tersebut, Mona perlu memasak sendiri setiap makanan Abraham dan membeli segala jenis bahan dapur baru yang ia sendiri baru pernah dengar namanya. Garam himalaya, susu bebas kasein, makanan bebas gluten, tepung mocaf, dan masih banyak lagi.

Tidak heran, tagihan demi tagihan terus membengkak demi memberikan perawatan yang terbaik untuk Abraham. Kala itu, suami Mona bekerja sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS) dengan gaji tidak sampai Rp 2 juta sebulan sedangkan Mona adalah seorang ibu rumah tangga yang fokus mengasuh ketiga anaknya, Sara, anak perempuan pertama, Jeremy, dan Abraham, si kembar.

Semenjak diagnosa Abraham diketahui, suami Mona bertekad mencari nafkah semaksimal mungkin agar Mona pun bisa mengurus anak-anaknya, demikian pembagian tugas mereka sebagai suami istri. Namun, tidak bisa dipungkiri, hati Mona semakin gelisah dan gundah melihat Abraham mulai memasuki usia sekolah dan Mona perlu mencarikan sekolah yang bisa mengakomodasi kebutuhan khusus sang anak. 

Abraham belajar bertani
dokumen pribadi
Abraham belajar bertani

Mencari sekolah

“Bu, mohon bantuannya ibu. Bolehkah Abraham anak saya sekolah di sini juga?”, pinta Mona kepada kepala sekolah TK tempat anak pertamanya, Sara, bersekolah. 

“Wah, sebenarnya kami belum memiliki fasilitas yang cukup untuk Abraham ibu, tapi mungkin jika ibu menyediakan helper untuk menemani Abraham di kelas, kami masih bisa membantu ibu,” jawab sang kepala sekolah dengan hangat kepada Mona.

"Mohon bantuannya ibu. Bolehkah Abraham anak saya sekolah di sini juga?” -- permintaan Mona pada kepala sekolah.

Tanpa berpikir panjang, Mona langsung mengiyakan tawaran tersebut. Ia mencari seorang profesional yang memiliki background pendidikan luar biasa untuk membantu Abraham ketika mengerjakan PR, menenangkannya ketika ia tantrum di kelas, dan juga menemaninya ketika berjalan kaki pulang ke rumah.

Di samping bersekolah di TK, Mona tetap memberikan Abraham berbagai macam terapi dan juga mendidiknya di rumah semampunya. Pengetahuan itu didapatkan ketika dirinya sering ikut masuk ke ruangan terapi Abraham dan mengamati setiap kegiatan yang dilakukan. Usai sesi, ia juga sering berbicara dengan para terapis, bertanya, dan berteman dengan mereka. Mona gigih melatih gerak sensorik dan motorik Abraham secara mandiri dengan bermodalkan tips yang diberikan para terapis. 

Beberapa barang pun ia sediakan untuk kebutuhan Abraham. Ban bekas dan tali dirangkai menjadi ayunan di halaman belakang rumah, bongkahan plastik ia ubah menjadi perosotan, bahkan permintaan oleh-olehnya kepada teman yang sedang berlibur adalah pasir pantai. Semua itu ia lakukan untuk melatih motorik dan juga sensorik Abraham secara mandiri di rumah.

“Kalau begini, kita gak usah terapi sebanyak itu dan bisa hemat dengan terapi di rumah aja,” pikirnya. Ditambah lagi, permainan-permainan tersebut juga menjadi wahana bermain bagi Jeremy dan Sara. Saat akhir pekan, Mona menghabiskan waktu bersama Abraham bermain ke sawah, belajar grounding di rumput tanpa alas kaki, dan bermain ke sungai. 

Penolakan Bertubi-tubi

Ketika Abraham memasuki usia tujuh tahun, tubuhnya semakin tinggi dan gempal, tetapi ia masih nonverbal. Perilaku sosialnya juga kian membaik berkat terapi, meskipun ia masih belum bisa berkomunikasi dengan baik kepada orang-orang di sekitarnya. Namun, Mona tetap gigih dan berusaha mencarikan sekolah bagi Abraham.

Setelah bertanya-tanya ke orang sekitar, Mona mencoba menghubungi salah satu SD swasta yang cukup terkenal saat itu. Awalnya Abraham diterima, tetapi ada beberapa syarat yang cukup memberatkan.

“Ibu, karena Abraham memiliki autisme dan memerlukan penanganan khusus, silahkan ibu menyediakan pendamping sebagai shadow teacher Abraham ya, bu. Selain itu, uang pangkal dan juga uang sekolahnya akan berbeda ibu. Biayanya akan dua kali lipat dibanding anak-anak reguler,” ujar pihak sekolah kepada Mona. Kembali lagi, Mona tidak mengeluh atau berpikir panjang untuk mengiyakan permintaan sekolah tersebut. 

Mona masih ingat, Abraham tiba di sekolah pertamanya, lengkap dengan seragam dan tas ransel kecil yang berisi keperluan sekolah dan bekalnya dari rumah. Ditemani oleh seorang pendamping, Abraham berbaris masuk bersama teman-teman sekelasnya sebelum memulai pelajaran di kelas.

Hari itu, kelas berjalan dengan cukup lancar. Abraham kadang berteriak, berlari ke sana-ke mari, dan tidak bisa duduk diam seperti teman-temannya yang lain. Beberapa teman kelasnya saling menatap kebingungan, mereka tidak terbiasa melihat perilaku seperti itu. Sempat salah satu anak mendekat untuk mengajak Abraham berbicara, tetapi Abraham hanya diam dan bergumam sendiri. 

“Ibu kok dia gitu? Kenapa dia lari-lari terus?”, seorang anak di kelas itu bertanya kepada ibu guru yang sedang mengajar. “Gak apa nak, Abraham memang berbeda, tetapi harus kita terima ya,” jawab gurunya yang mencoba menenangkan anak itu. Namun, bagaimanapun seorang anak kecil tetaplah seorang anak kecil. Mereka belum bisa sepenuhnya mengerti keadaan temannya yang berbeda dan tetap memberikan tatapan kebingungan kepada Abraham.

Hari Ke-empat

Mona menggandeng tangan Abraham dengan erat sembari menuntunnya menuju ruang kelas bersama sang pendamping. Ketika bel masuk berbunyi, Abraham pun berjalan dengan sang pendamping untuk berbaris masuk bersama temannya yang lain. Mona baru saja membalikkan badannya menuju pintu keluar saat suara wali kelas Abraham memanggil dirinya.

“Ibu Mona, maaf ibu. Apakah boleh saya minta waktunya sebentar?”, ujar wali kelas Abraham.

“Oh, boleh ibu. Ada apa bu?”, jawab Mona.

"Banyak orang tua mengancam jika kami tidak mengeluarkan anak ibu, merekalah yang akan keluar dari sekolah ini." -- cerita Mona

“Begini ibu, setelah mengobservasi Abraham selama beberapa hari ini kami menemukan bahwa Abraham masih sulit untuk bisa fokus dan mengikuti pelajaran di kelas. Selain itu, beberapa orang tua mengajukan komplain kepada kami mengenai anak ibu,” ujar sang wali kelas.

“Bukankah pendamping yang saya sediakan sudah cukup membantu bu? Komplain apa yang diajukan?”, tegas Mona.

Raut wali kelas Abraham menunjukkan kegelisahan, kepalanya tertunduk.

“Begini bu, mereka tidak terima bahwa anak ibu yang ‘spesial’ digabungkan dengan anak mereka yang ‘normal’. Mereka merasa terganggu dengan perilaku Abraham dan merasa anaknya tidak akan fokus dengan keberadaannya. Selain itu, banyak orang tua mengancam jika kami tidak mengeluarkan anak ibu, merekalah yang akan keluar dari sekolah ini.”

Mendengar hal itu, hati Mona seperti dihantam batu besar yang membuat air mata menggenang di ujung matanya. Tidak ia sangka, penolakan akan datang secepat ini. Belum mencicipi sekolah selama seminggu tetapi anakku sudah mau dikeluarkan, pikirnya. 

“Bu, maaf sekali atas hal ini bu. Apakah tidak ada lagi yang bisa saya usahakan? Apakah pendampingnya kurang sigap ibu?”

“Maaf ibu, kami juga sudah mencoba membujuk para orang tua, tetapi mereka tidak terima. Saya merasa tidak enak hati untuk melakukan ini, tapi kami ditekan habis-habisan oleh orang tua lain, bu. Anak mereka komplain dan berkata Abraham selalu berlarian dan berisik. Maaf sekali lagi ibu, sepertinya sekolah kami belum tepat untuk Abraham”, sang wali kelas menundukkan kepala sembari meminta maaf kepada Mona. 

Dengan berat hati, Mona tersenyum pahit dan menganggukkan kepalanya, “Baik bu, terima kasih atas waktunya yang singkat di sini. Maafkan saya dan Abraham juga ya bu.”

Keesokan harinya, Abraham tidak berangkat ke sekolah.Bersama Mona, ia berkeliling mencari sekolah baru bagi dirinya. Waktu kian berlalu, dan penolakan terus datang tak ada habisnya. Alasan mereka selalu sama.

“Anak ibu tidak bisa diam di kelas, bu. Sangat aktif.”

“Ada beberapa guru yang merasa tersaingi oleh pendamping Abraham.”

“Bagaimana ya bu? Abraham ini tidak mau pakai seragam sekolah sedangkan itu sudah menjadi peraturan kami di sini. Setiap anak wajib berseragam.”

“Banyak anak murid yang protes ke orang tuanya karena Abraham tiba-tiba berteriak dengan kencang atau suka tantrum saat sedang belajar di kelas.”

Berbagai macam sekolah ia coba datangi, beberapa langsung menolak, beberapa menerima, tetapi pada akhirnya kembali dikeluarkan dengan alasan yang serupa. Total delapan sekolah yang menolak Abraham untuk mengemban pendidikan di institusi mereka dalam jangka waktu 3 tahun dimulai dari Abraham berusia 5 tahun.

Banyaknya waktu, uang, dan tenaga yang terbuang sempat membuat Mona ingin menyerah karena letih. Ditambah lagi, pendidikan inklusif belum menjadi sesuatu yang dijalankan pada masa itu.  

Abraham dalam sebuah acara bersama Putri Wisata
dokumen pribadi Mona
Abraham dalam sebuah acara bersama Putri Wisata

Titik Balik

Pagi itu, embun pagi terasa sejuk tetapi udara terasa begitu berat bagi Mona. Setiap hari, ia memikirkan pendidikan Abraham, kemana lagi ia harus pergi untuk mencarikan sekolah, ditambah beban finansial yang seakan-akan tiada habisnya.

Tepat saat matahari mulai muncul, Mona berjalan keluar dari rumahnya menggandeng Abraham yang berusia hampir delapan tahun. Wajahnya gundah, air mukanya tidak tenang. Namun, tangannya tetap menggenggam erat Abraham yang mengikutinya tanpa suara. Abraham masih belum bisa berbicara dan suara yang ia keluarkan hanya sebatas gumaman kata-kata tanpa arti. 

Mona menaikkan Abraham ke jok motornya dan menaruh tas kecil Abraham di keranjang depan motor. Ia menyalakan mesin dan menjalankan motor itu. Jalanan ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang, tetapi semua suara hiruk pikuk itu seolah tak terdengar. Satu-satunya hal yang terngiang-ngiang di kepala Mona adalah perkataan beberapa temannya yang mengunjungi dirinya beberapa waktu belakangan.

“Mona, dosa apa yang kamu perbuat sampai kamu punya anak seperti ini?” -- pertanyaan pada Mona

“Mona, dosa apa yang kamu perbuat sampai kamu punya anak seperti ini?”

“Kamu punya kutuk apa? Sampai kamu punya anak ini.”

Sambil terus menatap jalanan, air mata menetes perlahan membasahi pipinya yang dingin terkena angin pagi. “Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan? Suamiku bersusah payah mencarikan nafkah demi membiayai kebutuhan pendidikan Abraham dan kebutuhan rumah tangga kami. Aku lelah. Aku tidak kuat,” pikirnya di dalam hati. Itulah saat di mana ia melihat banyak truk melintas di depan dirinya. Otaknya mulai kacau dan membentuk tekad untuk menghampiri truk-truk yang ada. 

“Sudahlah, yuk Abraham kita mati berdua. Mungkin kuburan kita bisa digabung, jadinya tidak boros lagi nak. Maafkan mama nak.”

Abraham tidak bergeming, sementara motor Mona kian mendekati truk-truk besar. Sedikit demi sedikit, dunia terasa gelap, hati Mona sudah siap menerima kenyataan bahwa hidupnya dan sang anak akan berhenti sesaat lagi. 

M–mama tas jatuh…mama tas ja–jatuh.” 

Suara pelan itu seketika memecah konsentrasi Mona dan ia pun langsung menengok ke arah belakang. Abraham, yang belum pernah berbicara satu patah kata pun, tiba-tiba berbicara. Dengan cepat, Mona melipir ke arah kiri jalanan dan melihat maksud anaknya.

Ia mengembalikan tas yang sudah berada di ujung keranjang motor ke bagian tengah. Sambil masih kebingungan dan mengernyitkan dahi, ia turun dari motornya berpaling kepada Abraham yang masih duduk manis di jok belakang.

“Nak, kamu ngomong apa nak? Kamu ngomong? Kamu kan belum bisa ngomong.”

Mona memegang erat kedua bahu anak itu, air mata mengalir deras dan tangisnya pun meluap. Abraham menatapnya, diam, tanpa mengeluarkan kata-kata apapun lagi. Mona memeluk erat sang anak sambil berkata: “Maafkan aku Tuhan. Maafkan mama nak.”

Semuanya berubah bagi Mona. Walaupun dunia terasa berat dan penolakan terus ia terima, ia bertekad untuk mengurus dan mendidik Abraham dengan sepenuh hatinya karena ia merasa ditegur oleh keajaiban yang terjadi di hari itu.

Seakan-akan Tuhan tidak mengizinkannya untuk meninggalkan dunia ini walaupun ada begitu banyak kesulitan yang dihadapi, baik secara finansial, fisik, dan emosi. Hari itu, di pinggir jalan yang teduh, seorang ibu kembali menemukan alasan untuk hidup dan berjuang.

Perjuangan dan Pengorbanan Seumur Hidup

Usai kejadian yang mengubah hidupnya, Mona beralih pada opsi pendidikan nonformal yang bisa ia carikan untuk Abraham. Tidak mudah memang, mengingat tahun 2000-an awal banyak orang dan institusi belum terbuka dan teredukasi mengenai autisme. Lagipula, ia juga berpendapat ijazah pendidikan formal tidak akan berguna bagi anaknya di masa depan.

“Daripada dapat nilai 10 fisikanya, mending Abraham belajar cara masak, cuci baju, dan hidup mandiri,” pikir Mona saat itu. Ia lebih memilih Abraham bisa bertahan hidup saat nanti ia sudah tiada dibandingkan bisa mengerjakan soal matematika.

Akhirnya pilihannya jatuh kepada sentra-sentra pendidikan nonformal yang kelasnya didesain spesial bagi anak-anak berkebutuhan khusus, berbeda dengan bangunan-bangunan megah sekolah pada umumnya.

“Daripada dapat nilai 10 fisikanya, mending Abraham belajar cara masak, cuci baju, dan hidup mandiri.” -- Mona

Satu kelasnya hanya terdiri dari 15-20 anak dengan perbandingan guru 1:2 atau paling banyak 1:3. Dengan demikian, setiap guru bisa mengawasi kebutuhan dan progres setiap anak dengan lebih detail. Pada kasus Abraham, ia membutuhkan lebih banyak terapi wicara dan pelatihan life skills dasar. 

Kesulitan yang dihadapi oleh Mona tidak berkurang. Masalah finansial masih terjadi, tantangan baru dalam mengasuh Abraham terus berdatangan setiap harinya, tetapi perspektifnya telah berubah. Ia memiliki perspektif yang baru.

Saat waktu-waktu sulit menghadang, ia tidak lagi kehilangan harapan. Ia hanya memanjatkan doanya dengan khusyuk, meminta kekuatan dan kecukupan. Kemudian entah bagaimana, selalu ada berkat-berkat kecil yang datang dalam hidupnya.

“Bu Mona!”, seorang tukang majalah keliling mengetuk pintu rumahnya.

Terkejut mendengar hal itu, Mona bergegas keluar rumah, “Iya mas, ada apa?”

“Ini bu, kata bu RT, anak ibu autis? Ini di majalah saya ada tulisan autisme, siapa tau berguna buat ibu baca-baca,” kata tukang majalah itu sambil memberikan majalahnya kepada Mona.

Tukang majalah memberikannya majalah gratis, pedagang sayur keliling sering memberikannya sayuran atau buah ekstra, penjual ikan berbaik hati memberikannya ikan nila yang bisa dimakan oleh Abraham tanpa reaksi alergi. Mona sekeluarga dicukupkan. Hingga saat ini, Abraham terus disekolahkan dalam pendidikan nonformal baik lewat sentra-sentra anak berkebutuhan khusus maupun lewat edukasi yang diberikan Mona sehari-hari di rumah. 

Abraham bisa berkomunikasi dengan keluarganya melalui kata-kata dan kalimat yang sederhana. Ia juga memiliki rutinitas harian yang ia ikuti secara detail, misalnya membangunkan Mona setiap pagi dan mengajaknya berdoa bersama, meminta makanan yang ingin ia makan hari itu, membuka gorden, membuka jendela, kemudian masuk ke toilet, dan masih banyak lagi.

Di akhir pekan, Abraham terbiasa mengganti seluruh sprei di rumah dan membantu Mona membersihkan rumah dan mendapatkan reward seperti buah mangga atau makanan apapun yang ia sukai.

Bagi Mona, memiliki anak yang spesial seperti Abraham justru menjadi pelajaran hidup paling berharga yang ia dapatkan. Tidak mudah memang, tapi pengorbanannya dalam mendidik Abraham membuahkan hasil yang manis.

Abraham pernah menjadi peragawan dan berjalan bersama Putri Indonesia di sebuah catwalk sambil mengenakan batik khas daerah, bergabung dalam kelompok pujian dan penyembahan di gereja, mandiri mencuci motor milik keluarga, dan bahkan menerima pesanan kue kering di saat hari raya Lebaran dan Natal.

Tak muluk-muluk meminta ijazah atau nilai yang tinggi hasil pendidikan formal, kebahagiaan Mona hanya melihat hidup anaknya yang berdampak bagi masyarakat dan hidup dengan mandiri.

Berkat Abraham, Mona terinspirasi untuk membantu orang tua lain yang kesulitan mendidik anak dengan autisme. Kini, ibu dari ketiga orang anak itu menjadi seorang aktivis yang kerap kali memberikan motivasi, tips, dan membagikan pengalamannya mendidik Abraham.

Pada waktu luangnya, ia juga mengajarkan workshop kecil-kecilan bagi anak berkebutuhan khusus seperti membuat kain jumputan, baking, dan lifeskill lain yang berguna bagi kemandirian mereka di masa depan. Semua ini ia lakukan tanpa meminta bayaran sedikit pun, ia merasa ada suatu kepuasan dan kesenangan tersendiri ketika ia bisa membantu orang lain, sekecil apapun itu.

Gambaran Pendidikan bagi Anak Autisme di Indonesia


Kisah Mona dan Abraham yang kesulitan mencari sekolah hanya merupakan salah satu dari begitu banyak kisah perjuangan orang tua lain dengan anak autisme atau berkebutuhan khusus. Di balik perjuangan mereka, tersembunyi persoalan yang lebih besar, yaitu kesiapan sistem pendidikan Indonesia menghadapi anak-anak dengan spektrum autisme.

Sebanyak 2,4 juta anak di Indonesia mengidap autisme, angka ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Kesehatan RI periode 2020-2024, dr Dante Saksono Harbuwono pada acara Special Kids Expo tahun 2024. Sedangkan, Dr Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH, seorang dokter spesialis anak mengatakan bahwa dari 4,5 juta angka kelahiran di Indonesia, satu dari 100 anak mengalami autism spectrum disorder (ASD). 

Dengan jumlah yang terus bertambah, diperlukan lebih banyak institusi untuk menangani pendidikan bagi anak autisme. Utamanya, ada beberapa opsi pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus terutama autisme di Indonesia, di antaranya adalah sekolah inklusif, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Sekolah Luar Biasa (SLB), dan juga sekolah khusus atau sentra-sentra pendidikan nonformal lainnya.

sekolah khusus

Dengan berbagai opsi pendidikan yang ada, penting untuk memilih pendidikan yang tepat bagi anak autisme.

Dr. Adriana Ginanjar (61), seorang psikolog, orang tua dengan anak autisme, sekaligus pendiri Sekolah Mandiga menjelaskan bahwa anak-anak dengan autisme memiliki gangguan neurologis yang memengaruhi sistem saraf, sehingga fungsi dari pendidikan itu sendiri adalah untuk mengejar ketertinggalan mereka di beberapa aspek, bukan ‘menyembuhkan’ kondisi autisme yang dimiliki.

Hal ini sering menjadi kesalahpahaman di antara orang tua yang berharap anaknya akan terlihat lebih ‘normal’ usai menjalankan pendidikan di sekolah formal, sehingga pendidikan nonformal dipandang buruk karena dianggap kurang efektif. 

“Kenapa harus sekolah? Ya memang harus, karena tanpa pelatihan, tanpa metode pendidikan yang tepat, anak-anak ini nanti akan sangat kesulitan untuk berkomunikasi, akibatnya nanti frustasi, dan frustasi itu mengarahnya ke gangguan perilaku. Gangguan perilaku itu ‘kan bisa menyakiti diri sendiri, menyakiti orang lain, gitu,” ujar Dr. Adriana (Selasa, 14/10/2025).

"Sekolah itu bukan cuma soal calistung. Justru untuk anak dengan autisme yang memiliki keterbatasan bina diri, sekolah (khusus) itu jadi tempat yang tepat untuk mempersiapkan mereka mandiri." -- Estherina Yaneta Tantomo, psikolog klinis

Ditambah lagi, spektrum autisme yang begitu luas juga menambah pentingnya anak-anak autisme untuk diberikan pendidikan yang sesuai sepanjang hidupnya, bukan hanya pada golden age atau lima tahun pertama sang anak.

Namun, perlu juga untuk menyadari bahwa pendidikan untuk anak autisme tidak melulu soal akademis.

“Jadi yang perlu diluruskan adalah sekolah itu bukan cuma soal calistung (baca, tulis, hitung). Justru untuk anak dengan autisme yang memiliki keterbatasan bina diri, sekolah (khusus) itu jadi tempat yang tepat untuk mempersiapkan mereka mandiri dalam kehidupan sehari-hari tanpa menuntut mereka untuk excellent dalam bidang akademik. Tentu ya, bentuk sekolahnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak,” jelas Estherina Yaneta Tantomo (25), seorang psikolog klinis dan perilaku (Kamis, 9/10/2025).

Baik pendidikan formal lewat sekolah inklusif, maupun pendidikan nonformal seperti PKBM atau sekolah khusus, semua itu perlu ditinjau kembali oleh orang tua sambil berkolaborasi dengan psikolog atau terapis agar pendidikan yang dipilih tepat sasaran bagi kebutuhan sang anak. 

Peraturan Pemerintah Mengenai Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus 

Sebelum membahas tantangan pendidikan bagi anak autisme di lapangan, penting untuk  mengetahui peraturan terkait pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas di Indonesia. Hal ini diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tujuannya memberikan kesempatan yang sama kepada semua anak dengan semua kebutuhan untuk belajar bersama di dalam satu kelas. Pendidikan inklusif merupakan salah satu opsi pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang diatur dalam Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2022.

Peraturan Pemerintah Mengenai Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Di dalam panduan tersebut, pemerintah mengklasifikasikan anak berkebutuhan khusus menjadi beberapa kelompok yaitu:

  • Peserta didik dengan hambatan fisik
  • Peserta didik dengan hambatan motorik
  • Peserta didik dengan hambatan intelektual
  • Peserta didik dengan hambatan majemuk
  • Peserta didik dengan hambatan penglihatan
  • Peserta didik dengan hambatan pendengaran
  • Autistic Spectrum Disorder (ASD)
  • Peserta didik dengan kecerdasan istimewa atau berbakat

Untuk anak-anak dengan autisme, panduan ini menegaskan perlunya kurikulum khusus yang dibuat berdasarkan hasil asesmen setiap anak karena anak yang memiliki autisme biasanya mengalami kesulitan untuk mengikuti kurikulum standar yang ada.

Selain itu, Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik penyandang Disabilitas Pasal 12(f) menyatakan perlunya “penyesuaian rasio antara jumlah guru/dosen dengan jumlah Peserta Didik Penyandang Disabilitas intelektual di kelas”.

Misalnya hanya ada maksimal dua murid berkebutuhan khusus dalam satu kelas. Apabila ditemukan ada murid yang memiliki kebutuhan khusus yang cukup berat, sekolah dapat menetapkan hanya ada satu anak berkebutuhan khusus di dalam kelas tersebut.

Sejak peraturan itu diberlakukan, setiap sekolah diwajibkan menjadi lingkungan yang inklusif. Tak lagi diperbolehkan menolak anak-anak berkebutuhan khusus yang ingin menempuh pendidikan bersama teman sebayanya.

Aktivitas di PKBM Pantara
Darlene Verica Angel
Aktivitas di PKBM Pantara

Inklusivitas yang Masih di Atas Kertas

Meskipun peraturan mengenai pendidikan inklusif terlihat memberikan ruang dan kesempatan baru bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus, realitanya tidak seindah itu. Kenyataannya masih banyak orang tua dengan anak autisme di luar sana yang kesulitan mencarikan pendidikan bagi anak mereka karena berbagai alasan. 

“Dominic itu sudah pernah sekolah di sekolah reguler yang ‘inklusif’  (menerima anak berkebutuhan khusus) terus ternyata tidak cocok, gurunya juga nggak bisa nge-handle dia dengan baik. Terlalu banyak akademis jadi Montessori-nya kurang. Sekolah inklusif lain sih ada tapi jauh-jauh juga,”  ujar Lia (33), ibu anak dengan ASD.

"Kadang Yovela masih mendapat perlakuan tidak enak karena dia autis. Karena mereka nggak tau." -- Yanti, orangtua

Montessori artinya adalah sebuah metode pendidikan yang berpusat pada anak dan menekankan pada kemandirian melalui lingkungan belajar yang terstruktur.

“Sekolah yang inklusif itu mahal-mahal ya. Mahal sekali, justru karena terkendala biaya saya dan papanya tidak memfokuskan hal itu. Lalu kadang Yovela masih mendapat perlakuan tidak enak karena dia autis. Karena mereka nggak tau, apalagi yang bener-bener di lingkungan keluarga atau temannya gak ada yang autis. Saya rasa harus diedukasi. Ya mulainya dari sekolah. Dikenalin dari pendidikan inklusif,” ujar Yanti (40) orang tua lain.

“Saya merasakan betul gitu ya. Gimana susahnya jadi ibu dengan anak autisme. Apalagi, dulu anak saya kan lahirnya tahun 90-an itu sekolah inklusif masih sedikit banget. Jadi makanya kenapa saya bikin Sekolah Mandiga karena anak-anak teman saya yang autisme pun udah nggak bisa kemana-mana. Ke SD umum ditolak-tolakin lah pastinya karena kan non-verbal ya,” ujar Dr. Adriana Ginanjar (61).

Dari berbagai curahan hati orang tua dengan anak autisme, kesiapan sekolah pun akhirnya menjadi suatu pertanyaan. Meskipun inklusivitas dalam pendidikan adalah tujuan utama semua negara, tetapi sekolah inklusif di Indonesia terlihat belum siap menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Walaupun setiap sekolah saat ini diwajibkan untuk menerima ABK, nyatanya tidak semua sekolah menjalankan peraturan ini dengan efektif dikarenakan beberapa faktor. 

Di sekolah reguler, kesulitan pelaksanaan pendidikan inklusif kebanyakan berakar dari ketidaksiapan sumber daya manusia yaitu para guru.

“Biasanya, sekolahnya nggak ready untuk menerima anak berkebutuhan khusus gitu. Programnya masih umum, atau pendampingan dan kesiapan dari gurunya minim,” ujar Estherina Yaneta Tantomo saat diwawancarai secara daring (Kamis, 9/10/2025).

Aktivitas pendidikan di sekolah Mandiga
Darlene Verica Angel
Aktivitas pendidikan di sekolah Mandiga

Dr. Adriana Ginanjar juga menambahkan pendapatnya mengenai ketidaksiapan sekolah, “...di Indonesia itu kalau saya lihat dan terutama juga keluhan dari para orang tua, sekolah inklusinya itu sebenarnya belum terlalu siap menerima anak berkebutuhan khusus secara kurikulum dan juga terutama mereka-mereka yang memang butuh pendampingan khusus atau shadow teacher,” tambahnya (Selasa, 14/10/2025). 

Kesulitan ini dirasakan sendiri oleh Lily (49), Kepala Sekolah SD Kalam Kudus 3, yang menjelaskan bahwa para guru menghadapi tantangan dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus di setting sekolah reguler.

“Kendalanya kadang-kadang di sisi waktu ya, karena ketika mengajar satu kelas yang sifatnya reguler, satu kelas itu kurang lebih 25-29 murid. Pasti ke distract ya fokus guru untuk mengajar jika ada anak kebutuhan khusus yang perlu special attention gitu. Ketika tantrum juga ‘kan kurang bisa dikontrol anaknya, jadi ketika guru menertibkan dia dan sebagainya, kadang-kadang secara manusia ya terpicu juga emosionalnya gitu,” ujarnya (Jumat, 17/10/2025).

Lily juga menjabarkan bahwa guru-guru belum memiliki kemampuan khusus dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus, terutama autisme. Hal ini membuat pembelajaran menjadi kurang efektif baik bagi sang anak, maupun bagi guru yang mengajar. Ditambah lagi, anak autisme memerlukan penyesuaian kurikulum yang berbeda-beda bagi setiap anak.

Oleh karena itu, ia mengungkapkan perlunya dukungan dari pemerintah untuk membantu pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah lewat pembekalan guru-guru. Metode pembelajaran yang tepat, capaian pembelajaran khusus, dan penyesuaian kurikulum menjadi poin-poin penting yang ia pikir perlu untuk disosialisasikan kepada para guru. Selama menjadi kepala sekolah.

Lily juga tetap mencoba melakukan asesmen apabila ada anak dengan kebutuhan khusus yang mencoba mendaftar. Apabila dinilai cukup ringan dan bisa ditangani oleh para guru, pihak sekolah akan menerima. Namun jika tidak, Lily pun tetap mencoba membantu dengan merujuk mereka ke sekolah yang mungkin lebih cocok. Menurutnya, hal tersebut ia lakukan agar sang anak pun tetap mendapatkan pendidikan yang sesuai dan bisa berkembang dengan baik. 

Kegiatan di PAUD Ecclesia
Darlene Verica Angel
Kegiatan di PAUD Ecclesia

Di sisi lain, seorang guru SD Kalam Kudus 3, Afriyanti menyatakan kesulitannya ketika mendapatkan kesempatan untuk mengajar salah satu anak dengan kebutuhan khusus di kelasnya.

"Kalau kita sudah bisa menerima, baru kita bisa masuk dan belajar mendidik mereka." -- Afryanti

“Itu tantangan yang berat banget. Jujur kaget sih, bulan pertama, bulan kedua, kenapa ya? Ini dia lari-lari, dia nggak bisa diem, loncat-loncat gitu. Tapi akhirnya mau keadaan dia seperti apa kita harus belajar menerima dulu nih. Kalau kita sudah bisa menerima, baru kita bisa masuk dan belajar mendidik mereka,” ujarnya ketika ditanya mengenai perasaannya ketika pertama kali menghadapi anak dengan berkebutuhan khusus (Jumat, 17/10/2025). 

Dalam perjalanannya mengajar sang anak, Afri akhirnya meminta bantuan dari guru Bimbingan Konseling (BK) untuk membantunya di dalam kelas dan secara rutin, berkomunikasi dengan orang tua sang anak untuk bekerja sama dalam mendidik anaknya melalui penambahan terapi khusus di luar sekolah.

Afri menjelaskan bahwa dirinya sangat bersyukur ketika sang anak menunjukkan perubahan perilaku yang positif setelah bulan ketiganya duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ia menyadari hal ini merupakan hasil dari kerja sama yang baik antara pihak orang tua dan pihak sekolah. Namun, tidak dapat dipungkiri, Afri mengakui sarana prasarana yang ada di sekolah reguler juga menjadi tantangan tersendiri.

“Kalau dia (anak berkebutuhan khusus) ‘kan benar-benar butuh sesuatu yang kayak untuk sensorik atau puzzle atau apa. Itu kan butuh dana lagi. Mungkin juga butuh ada satu ruangan khusus juga (quiet room),” tuturnya.

Apa Saja yang Harus Disiapkan Sekolah Ketika Menerima Anak dengan Kebutuhan Khusus, Terutama Autisme?

Tidak hanya di sekolah reguler, guru-guru di sekolah inklusif pun tetap belajar setiap harinya untuk menghadapi setiap tantangan dalam mengurus anak-anak berkebutuhan khusus, terutama autisme.

Bagi Graciela (25), seorang guru di TK inklusif PAUD Ecclesia, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan dalam mendidik anak dengan autisme.

“Pertama adalah kita harus kenalin anak itu sendiri. Walaupun kalau anak normal satu kurikulum bisa untuk semua, tapi kalau anak berkebutuhan khusus tentu tidak bisa kita samakan. Kedua, ruangan. Lantainya harus banyak busa melihat pergerakan mereka yang sangat banyak. Kemudian alat main yang disediakan untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang tingkat kesusahannya pasti berjenjang,” ujarnya. 

Francisca Setiawan (50), Kepala Sekolah di PAUD Ecclesia juga menambahkan informasi mengenai kebutuhan sarana prasarana yang disiapkan di PAUD Ecclesia untuk menunjang pembelajaran.

“Ada playground, ada lapangan terbuka, ada permainan sensori, dan juga motorik. Bukan karena kita menerima anak special needs terus kita ujuk-ujuk jadi menyediakan sensori dan motorik, bukan. Tapi bagi saya sensori dan motorik itu memang diperlukan untuk anak-anak usia dini. Meskipun mereka tidak autis ya, tapi mereka tetap harus dikasih kegiatan itu. Tapi untuk anak-anak autis itu sangat dibutuhkan, kalau bisa setiap hari,” tambahnya (Jumat, 10/10/2025).

Dr. Adriana Ginanjar dan Estherina Yaneta Tantomo juga menyetujui hal ini dan merangkum beberapa hal yang perlu disiapkan sekolah dalam menghadapi anak-anak berkebutuhan khusus, terutama autisme.

Apa Saja yang Harus Disiapkan Sekolah Ketika Menerima Anak dengan Kebutuhan Khusus

Dalam mendukung pelaksanaan pendidikan inklusif, pemerintah pun sudah mulai melaksanakan beberapa kegiatan atau layanan terkait.

“Sebetulnya, Pemda DKI sudah melakukan beberapa upaya. Diantaranya adalah melatih guru-guru umum di sekolah reguler untuk mengikuti layanan pelatihan PDBK (Peserta Didik Berkebutuhan Khusus), itu satu. Kedua, memberikan posko sampai tingkat kecamatan, namanya Unit Layanan Disabilitas (ULD). Nah, kami di tingkat Walikota belum menyediakan psikolog, karena kalau psikolog itu adanya di provinsi dan itu semuanya free,” jelas Wanto, Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Wilayah II Jakarta Barat (Senin, 20/10/2025).

Namun, Wanto juga menyadari kesulitan di lapangan untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus sangatlah nyata. Ia menyatakan bahwa memang ada beberapa kendala yang membuat pelatihan PDBK bagi para guru atau layanan ULD belum berjalan maksimal.

Pertama, adanya keterbatasan kuota pada setiap pelatihan. Kedua, belum semua sekolah menyadari adanya layanan ULD yang disediakan pemerintah. Oleh karena itu, Sudin Pendidikan juga memiliki inisiatif baru untuk melakukan asesmen terhadap PDBK di sekolah-sekolah reguler yang berkolaborasi dengan psikolog di tahun ini. Asesmen diadakan bagi 100 PDBK dari sejumlah SD dan SMP negeri di wilayah Jakarta Barat.

Kegiatan asesmen PDBK di kantor walikota Jakarta Barat, Selasa (21/10/2025).
Darlene Verica Angel
Kegiatan asesmen PDBK di kantor walikota Jakarta Barat, Selasa (21/10/2025).

Pada asesmen tersebut, PDBK akan diberikan psikotes, melakukan wawancara bersama penguji. Kemudian, hasilnya akan diproses oleh tim psikolog. Sesudah itu, hasil dari masing-masing anak pun akan dibagikan secara personal dan para guru juga akan diberikan strategi atau rekomendasi untuk menangani pendidikan masing-masing anak.

“Dari kami, pastilah mengupayakan memberikan layanan sebaik mungkin dengan cara menyiapkan SDM yang mumpuni melalui pelatihan-pelatihan. Mudah-mudahan ke depannya tidak hanya retorika, tetapi betul-betul ada action-nya anak-anak PDBK yang di sekolah reguler itu bisa tertangani. Termasuk upaya kerjasama dengan CSR, memberikan layanan konsul tanpa biaya. Itu sebuah upaya,” ujar Wanto (Senin, 20/10/2025).

Ia berharap upaya ini dapat terus dilangsungkan secara bertahap dan menyeluruh hingga menjangkau semua daerah serta sekolah yang ada di Indonesia.

Namun, perlu dipahami bahwa persoalan pendidikan inklusif tidak hanya berhenti pada kesiapan guru atau fasilitas sekolah. Tantangan yang jauh lebih kompleks justru terletak pada cara masyarakat memandang perbedaan. Penolakan yang dulu dialami Mona dan Abraham kerap berawal dari ketakutan atau ketidaktahuan orang tua murid lain yang merasa “terganggu” dengan kehadiran anak-anak autisme di ruang kelas anak mereka.

Oleh karena itu, pendidikan inklusif seharusnya tidak hanya menjadi proyek sekolah, tetapi juga gerakan sosial yang melibatkan seluruh komunitas. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu mendapatkan edukasi untuk menumbuhkan empati, memahami perilaku anak dengan autisme, dan menghapus stigma bahwa mereka “menghambat” proses belajar anak lain. Hanya dengan perubahan cara pandang kolektif inilah, penolakan demi penolakan seperti yang dialami Mona tak lagi menjadi cerita yang berulang di masa depan.

 Pengajaran di sekolah Mandiga
Darlene Verica Angel
Pengajaran di sekolah Mandiga

Menuju Masa Depan Pendidikan yang Lebih Inklusif

Kisah Mona bukan sekadar tentang seorang ibu yang berjuang demi pendidikan anaknya yang memiliki autisme, tetapi potret kecil dari sistem pendidikan kita yang masih belajar memahami makna inklusivitas.

Di balik setiap penolakan yang ia dapatkan, tersimpan suatu kegagalan sistem pendidikan yang belum siap menerima mereka yang ‘berbeda’.  Walaupun konsep inklusivitas terdengar begitu indah, masih banyak anak-anak dengan autisme yang harus berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bagi mereka, tantangan terbesar bukan terletak pada pembelajaran membaca atau berhitung, tetapi untuk diterima sebagai bagian dari pendidikan itu sendiri. 

Oleh karena itu, dibutuhkan adanya sinergi dari segala pihak untuk terus mengusahakan inklusivitas di dalam pendidikan bagi anak-anak dengan autisme.

Dari sisi pemerintah, diperlukan upaya lebih lanjut untuk memberikan dukungan pelatihan atau pembekalan kepada para guru terkait penanganan anak-anak berkebutuhan khusus secara praktis di lapangan.

Dari sisi orang tua, perlu adanya kesadaran bahwa setiap anak dengan autisme memiliki kebutuhan pendidikan yang berbeda-beda sehingga tidak ada satu bentuk pendidikan yang sesuai untuk semua anak. Dengan itu, orang tua perlu bekerja sama dengan psikolog atau ahli untuk menentukan pilihan pendidikan yang paling sesuai untuk kebutuhan sang anak.

Sementara itu, penting bagi satuan pendidikan untuk terus mengusahakan inklusivitas bagi semua anak dengan terus belajar, menambah ilmu mengenai isu ini, membangun sarana prasarana yang mendukung, dan melakukan penyesuaian kurikulum yang ada. 

Dengan demikian, masa depan pendidikan Indonesia dapat bergerak ke arah yang lebih inklusif, tempat setiap anak, termasuk mereka yang berada di spektrum autisme bisa belajar, bermain, dan bertumbuh tanpa takut dinilai “berbeda.”

Sejatinya, inklusivitas tidak selalu dimulai dengan langkah-langkah yang besar, tetapi ia juga bisa dimulai dari langkah kecil: mendengarkan, memahami, dan menerima. Sebab pada akhirnya, pendidikan yang inklusif bukan hanya tentang memberi akses, melainkan tentang membangun sistem yang menghargai setiap bentuk kecerdasan manusia.

Berkenalan dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)


PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat adalah bagian dari satuan pendidikan nonformal yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jenis pendidikan ini dibuat untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan karena pelaksanaannya tidak memiliki batasan usia dan latar belakang pendidikan. Oleh karena itu, PKBM pada umumnya juga menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

Apa yang membedakan PKBM dengan sekolah reguler?

PKBM biasanya lebih berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pendidikan yang dilakukan biasanya seputar peningkatan keterampilan, perolehan ijazah penyetaraan, atau pengembangan pengetahuan dalam bidang-bidang tertentu. 

Bagaimana dengan sistem kelulusannya?

PKBM sudah diakui oleh pemerintah dan dapat mengeluarkan ijazah resmi, seperti yang ditegaskan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2017.

Yuk, kita lihat salah satu contoh PKBM yang menerima anak berkebutuhan khusus, termasuk autisme!

Ruang kelas di Sekolah Pantara.
Darlene Verice Angel
Ruang kelas di Sekolah Pantara.

PKBM Pantara adalah salah satu PKBM di Duren Sawit, Jakarta Timur, yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme, gangguan belajar, down syndrome, dan ADHD. PKBM Pantara berfokus sebagai jembatan antara anak-anak yang berkebutuhan khusus, membutuhkan pendidikan, mengalami putus sekolah, dan memerlukan penanganan dengan cepat.

Saat ini, PKBM Pantara memiliki 36 murid dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda karakteristiknya. Namun, PKBM Pantara tetap menggunakan kurikulum nasional yaitu Kurikulum Merdeka yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap-tiap murid.

Satu kelas di PKBM Pantara biasanya berisikan 10 anak murid dengan 4-5 orang guru yang membuat pengajaran terhadap masing-masing anak lebih intensif serta terarah. Tidak lupa, PKBM Pantara juga bekerja sama dengan psikolog untuk melakukan asesmen rutin terhadap perkembangan setiap anak.

Dengan fokus utama pada kemandirian dan pemberdayaan murid, PKBM Pantara menggabungkan pembelajaran akademis dengan kegiatan vokasi untuk mengembangkan minat bakat dari setiap anak. Beberapa contoh kegiatan vokasi yang dilakukan adalah membuat keterampilan tangan, memasak sederhana, melukis, dan menjual baju serta tas hasil karya lukisan anak.

Beberapa hasil karya anak murid mereka dijual dengan label Crevara PKBM Kids di acara-acara sekolah, exhibition untuk anak berkebutuhan khusus, dan juga secara daring.

“Pokoknya kita berusaha untuk memperkenalkan karya anak-anak dan sebenarnya untuk membangun kepercayaan diri mereka bahwa mereka mampu menghasilkan, mereka mampu membuat karya yang bisa membanggakan diri mereka sendiri dengan kekurangannya yang ada,” ujar Dian Rifiyanti, penanggung jawab unit PKBM Pantara (Jumat, 31/10/2025). 

Hasil karya mug, baju, dan batik dari murid PKBM Pantara.
Darlene Verica Angel
Hasil karya mug, baju, dan batik dari murid PKBM Pantara.

Dian menyebutkan bahwa PKBM seringkali mendapatkan stigma sosial yang kurang baik di masyarakat. Beberapa orang tua masih meremehkan bentuk pendidikan PKBM karena adanya stigma bahwa PKBM adalah tempat bagi anak-anak yang putus sekolah. Padahal, kenyataannya tidak demikian.

“Banyak yang bercerita, ‘Anak saya di sana dibully terus. Anak saya sudah mulai diabaikan. Gurunya tidak bisa menangani.’" -- Dian Rifiyanti

Oleh karena itu, ia sering kali menjelaskan kepada orang tua mengenai kenyataan yang sesungguhnya, “Secara kedinasan PKBM sudah resmi diterima. Kemudian saya jelaskan lagi ke orang tua, di sini bisa menerima ijazah, bisa masuk ke sekolah reguler juga, ke negeri juga, kemudian ikut PTN, masuk ke kedinasan juga sudah bisa diterima, kecuali akademi polisi dan militer ya,” ujar Dian (Jumat, 31/10/2025). 

Namun, Dian mengakui ia seringkali menemui orang tua yang memiliki pengalaman traumatis ketika mencarikan sekolah bagi anaknya yang berkebutuhan khusus. “Banyak yang bercerita, ‘Anak saya di sana dibully terus. Anak saya sudah mulai diabaikan. Gurunya tidak bisa menangani.’"

"Dan ada yang trauma banget, mereka pindah-pindah sekolah gitu ya, ada yang baru masuk satu hari, langsung dikeluarkan lagi, padahal dia udah bayar uang pangkal full gitu ya. Jadi ketika datang ke Pantara, pertanyaan panjang dan banyak banget, jadi kita berusaha meyakinkan dulu, tapi kita tidak memaksa, mau masuk silahkan, tidak masuk tidak apa-apa,” jelas Dian (Jumat, 31/10/2025).

Trauma-trauma itu lah yang ia coba ‘obati’ dalam proses pendidikan di PKBM Pantara supaya para orang tua bisa mendapatkan ketenangan ketika anaknya menjalankan pendidikannya. Pada akhirnya, Dian terus berharap agar semakin banyak PKBM di Indonesia yang bisa menerima dan menangani anak-anak berkebutuhan khusus agar setiap anak bisa mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. 

Sekolah Khusus Anak Autisme dan Sekolah Inklusif


Apa itu Sekolah Khusus?

Berbeda dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang umumnya menerima semua jenis kebutuhan khusus mulai dari disabilitas fisik hingga intelektual, sekolah khusus biasanya hanya berfokus pada satu jenis disabilitas, pada kasus ini autisme.

Mengapa Sekolah Khusus Bisa Menjadi Pilihan?

Sekolah khusus anak autisme biasanya memiliki expertise dalam menangani satu jenis kebutuhan. Kurikulum dan cara pendekatan mengajarnya pun disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak autisme yang mungkin memerlukan atensi lebih dalam pendidikannya.

Mari intip salah satu contoh sekolah khusus autisme yaitu Sekolah Mandiga!

Sekolah Mandiga
Darlene Verice Angel
Sekolah Mandiga

Sekolah Mandiga merupakan sekolah yang berfokus pada pendidikan anak-anak autisme dan berlokasi di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Berdiri sejak tahun 2000, sekolah ini sudah memiliki pengalaman selama 25 tahun dalam mendidik anak-anak autisme.

Sekolah Mandiga sendiri didirikan oleh Dr. Adriana Ginanjar, seorang psikolog sekaligus orang tua dengan anak autisme yang juga merasakan kesulitan dalam pencarian sekolah bagi anaknya. Dari kesulitan itulah, muncul dorongan untuk membuat suatu sekolah yang memfasilitasi anak-anak dengan autisme.

Sekolah Mandiga menangani berbagai spektrum autisme yang beragam menggunakan pendekatan basis Applied Behaviour Analysis (ABA), Picture Exchange Communication System (PECS), dan juga Treatment and Education of Autistic and Communication Handicapped Children (TEACCH).

“Selain ABA kita pakai PECS juga. Kartu-kartu bergambar dan tahapan ya. Di kamar mandi nanti kelihatan tuh, ada tahapan yang buat cuci tangan, ada yang buat mandi, di dapur ada yang buat masak. Terus kita pakai juga format TEACCH. TEACCH itu artinya mengubah setting lingkungannya menjadi lebih ramah untuk anak berkebutuhan khusus terutama untuk autisme."

"TEACCH itu misalnya belajarnya itu pakai tray. Ini baki masuk, ini baki keluar. Jadi semua materi taruh kiri yang belum dikerjakan. Nanti dia ambil, taruh di tengah dia kerjakan, dan kalau sudah selesai dipindahkan ke kanan,” jelas Dr. Adriana (Selasa, 14/10/2025).

Kegiatan belajar mengajar menggunakan flashcards Sekolah Mandiga.
Darlene Verica Angel
Kegiatan belajar mengajar menggunakan flashcards Sekolah Mandiga.

Kelas di sekolah Mandiga sendiri biasa dibagi menjadi kelas pagi dan kelas siang selama kurang lebih tiga setengah jam yang kemudian juga dikategorikan berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing anak. Terdapat kelas dasar, kelas lanjutan keterampilan, dan juga kelas lanjutan akademis bagi anak-anak yang sudah bisa melakukan calistung.

Biasanya, perbandingan guru dan anak murid di Sekolah Mandiga adalah 1:2 atau 1:3 agar setiap anak bisa mendapatkan atensi dan pembelajaran yang maksimal selama bersekolah.

 

Sekolah Inklusif

Apa itu Sekolah Inklusif?

Sekolah inklusif pada dasarnya adalah sekolah yang memungkinkan semua anak, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus untuk belajar bersama di satu lingkungan pendidikan yang sama. Sekolah inklusif bertujuan untuk membuat setiap anak memiliki kesempatan dan akses yang sama terhadap pendidikan yang berkualitas.

Apa Perbedaan Sekolah Inklusif dengan Sekolah Reguler?

Pada pelaksanaan sekolah inklusif yang efektif, kurikulum yang dipakai disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Selain itu, sekolah inklusif biasanya memiliki sarana prasarana yang mendukung pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus seperti dukungan psikolog, alat permainan sensori dan motorik, serta quiet room atau ruangan tenang.

Beberapa aspek ini bisa mendukung pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus sambil meningkatkan kapabilitas sosial mereka bersama teman-teman sebaya.

Yuk, kita lihat salah satu contoh sekolah inklusif yaitu PAUD Ecclesia!


Kegiatan pembelajaran di PAUD Ecclesia. 
Darlene Verica Angel
Kegiatan pembelajaran di PAUD Ecclesia. 

PAUD Ecclesia merupakan salah satu sekolah inklusif yang terletak di daerah Taman Semanan Indah, Jakarta Barat dan memiliki murid berkebutuhan khusus dengan autisme atau down syndrome. Mereka memiliki dua jenis kelas yaitu kelas inklusif dan kelas khusus atau disebut juga Diamond Class.

Kelas inklusif biasanya diperuntukkan bagi anak-anak yang ciri-ciri autismenya tergolong lebih ringan, masih bisa mengikuti pembelajaran bersama anak lain, dan bisa duduk diam serta fokus dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan kelas khusus atau Diamond Class diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki ciri-ciri autisme lebih berat, memerlukan atensi khusus, dan juga pendampingan yang lebih intensif dari guru.

Saat ini kelas inklusif mereka (TK A & TK B) terdiri dari 27 anak dengan 10 anak berkebutuhan khusus sedangkan kelas khusus memiliki total 22 anak. Dalam pembelajarannya, PAUD Ecclesia menggunakan kurikulum utama yaitu Kurikulum Merdeka yang dikombinasikan dengan Montessori. Capaian pembelajaran setiap anak juga disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan khusus masing-masing anak.

Kategorisasi setiap anak dilakukan melalui asesmen dari kepala sekolah dan juga psikolog PAUD Ecclesia saat mereka mendaftar. Umumnya, kepala sekolah akan melakukan wawancara bersama anak dan orang tuanya kemudian dilanjutkan dengan screening awal dari psikolog.

Apabila dinilai perlu oleh psikolog, sang anak akan melakukan trial di kelas inklusif selama beberapa hari untuk dilihat perilaku dan kebutuhan pendidikannya. Hal ini dilakukan agar setiap anak bisa mendapatkan pendidikan yang sesuai dan tepat sasaran.

Psikolog di PAUD Ecclesia juga secara rutin melakukan asesmen atau pemantauan pada perilaku setiap anak untuk memastikan tumbuh kembangnya sesuai dengan tujuan pembelajaran mereka.

Kepala sekolah PAUD Ecclesia, Francisca Setiawan (50) juga menjelaskan bahwa ada kemungkinan bagi seorang anak untuk berpindah kelas dari kelas khusus ke kelas inklusif, “Kalau misalnya anaknya kita didik di Diamond Class itu berhasil dan mereka kita nilai bisa masuk ke PAUD, nah itu kita masukin ke PAUD gitu. Jadi gak selamanya anak itu di Diamond Class gitu ya,” (Jumat, 10/10/2025).

Aktivitas motorik dan pembelajaran akademis di PAUD Ecclesia.
Darlene Verica Angel
Aktivitas motorik dan pembelajaran akademis di PAUD Ecclesia.

Untuk membekali para guru di PAUD Ecclesia, Francisca juga menjelaskan dirinya seringkali melakukan pelatihan secara internal maupun eksternal. “Pelatihan kita sering karena kita kan punya psikolog dan juga kita punya terapis-terapis yang bantu kita di HOPE Psikologi (therapy clinic milik PAUD Ecclesia),” ujar Francisca (Jumat, 10/10/2025).

Francisca juga sering mengirim para guru untuk menjalankan pelatihan secara eksternal melalui acara yang diselenggarakan HIMPAUDI atau pihak pemerintah lainnya.

Selama 5 tahun menjabat sebagai kepala sekolah, Francisca mengakui seringkali menemukan keluhan para orang tua yang kesulitan mencarikan sekolah bagi anaknya. Oleh karena itu, ia seringkali juga membantu orang tua yang anaknya sudah lulus dari PAUD Ecclesia untuk mencari sekolah yang tepat, misalnya seperti PKBM di sekitar Jakarta Barat dan juga sekolah inklusif di jenjang SD.

 

Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau