Di kaki-kaki Gunung Tanggamus nan megah, kabut tebal bernama kemiskinan seolah menggelayut lekat dengan nadi kehidupan masyarakat. Namun, hidup bukanlah tentang meratapi nasib di tanah yang subur.
Piil Pesenggiri menjadi falsafah hidup yang lekat bagi masyarakat Suku Lampung. Warisan nilai hidup ini yang diwariskan turun temurun dan mengatur cara berperilaku demi menjaga kehormatan, harga diri, dan nama baik melalui tindakan yang bermartabat.
Ini pula yang terlihat dari sebuah gubuk sederhana di tengah lembah yang disulap menjadi sebuah sekolah, tempat mimpi-mimpi itu dipupuk, menolak menyerah dengan kondisi yang serba terbatas.
Lokasi sekolah ini tersembunyi di dalam lembah, posisinya diapit oleh perbukitan terjal. Secara geografis, sekolah ini masuk ke dalam wilayah pedalaman di Pedukuhan Batu Nyangka, Desa Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung.
Dari ujung pandangan di puncak bukit, mata langsung bertumbukan dengan garis laut yang terhampar luas di bawah kaki bukit. Keindahan alam ini sayangnya berbanding terbalik dengan kondisi fisik tempat belajarnya.
Bangunan berukuran 4×9 meter itu jauh dari kata megah. Dindingnya hanya berupa kayu mendang yang disusun rapi, lantainya plester semen sederhana, dan atapnya dari seng yang kerap beradu bising dengan hujan.
Kondisi ini memprihatinkan karena sejak dibangun 22 tahun lalu, siswa PAUD hingga SD kelas 6 harus belajar di dalam gedung yang rawan roboh karena papan yang mulai lapuk serta atap yang mulai berkarat dan berlubang.
Kondisi tersebut membuat ruang kelas kerap bocor saat hujan dan mengganggu proses belajar mengajar. Meski dengan fasilitas terbatas, belasan siswa tetap mengikuti kegiatan belajar.
Ruang sekecil 2×4 meter dikhususkan untuk kelas PAUD, sementara sisa ruangan yang ada dipakai bersama-sama oleh murid kelas 2, 3, 4, dan 5 SD.
Tantangan tidak meratanya infrastruktur inilah yang membuat banyak masyarakat di Tanggamus putus sekolah. Tercatat angka putus sekolah di Tanggamus cukup tinggi yakni menembus 2.256 siswa. Faktor ekonomi keluarga, keharusan membantu orang tua bertani, dan jarak sekolah yang terlampau jauh di wilayah pelosok menjadi penyebab dominan.
Meski dihadapi segudang rintangan, dua guru tangguh Arpiana dan Ayani, tak kenal menyerah merawat masa depan 13 murid SD dan 4 anak PAUD dari balik ruangan yang sempit.
"Hampir tidak ada yang mau datang ke pelosok ini untuk membantu mengajar," kata Arpiana (40) membuka obrolan saat berbincang dengan Kompas.com pada Selasa (19/5/2026).
"Hampir tidak ada yang mau datang ke pelosok ini untuk membantu mengajar." -- Arpiana, guru di pelosok
Arpiana bercerita dia sempat bantuan pengajar ke sekolah pusat, namun bantuan itu tak kunjung datang. Jika membuka data persebaran guru di Kabupaten Tanggamus, maka kita akan membuka tabir soal ketimpangan distribusi tenaga pengajar.
Banyak guru menumpuk di wilayah pusat yang mapan, sementara sekolah-sekolah di wilayah "kantong terpencil" harus bertahan dengan kondisi kritis. Guru-guru yang masih bertahan terpaksa berperan sebagai “Guru Ganda” yang mengajar berbagai jenjang dan mata pelajaran sekaligus.
Bagi Arpriana, mengajar di sekolah ini bukan sekadar profesi, melainkan sebuah jalan pengabdian.
Sebagai warga asli setempat, ia memulai langkahnya 18 tahun lalu bermodalkan ijazah SMA.
Keteguhannya untuk mengajar di tempat terpencil ini membuatnya "merayu" sang suami untuk ikut menetap di kampungnya itu dan menjadi pelita bagi anak-anak desa setelah mereka menikah. Namun, sang suami tak lama mengajar di sana dan memilih pekerjaan lain.
Perjalanan Arpiana adalah episode panjang tentang ketabahan.
"Setiap hujan, buku-buku murid pasti basah karena atap bocor. Kalau angin kencang bertiup, sengnya bisa melayang." -- Arpiana
Pada tiga tahun pertama mengajar, upah yang diterima Arpiana bukanlah lembaran rupiah, melainkan beras satu kilogram dari masing-masing orang tua murid.
Waktu berlalu, sistem pengupahan berubah menggunakan Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS), dimulai dari Rp 200.000 per tiga bulan, lalu merangkak naik pelan-pelan.
Ia serius menjadi guru dan menempuh gelar Sarjana Pendidikan dari Universitas Terbuka Ambarawa, Pringsewu, hingga lulus pada 2015. Kini, statusnya adalah guru honorer paruh waktu dengan insentif daerah sebesar Rp 800.000 per bulan.
Status ini dia dapatkan setelah dikukuhkan lewat Surat Keputusan Bupati yang dikeluarkan pada 2015.
Selama belasan tahun mengabdi, Arpiana akrab dengan kecemasan. Setiap kali langit Cukuh Balak menghitam, hatinya berdegup kencang.
"Setiap hujan, buku-buku murid pasti basah karena atap bocor. Kalau angin kencang bertiup, sengnya bisa melayang," tutur Arpiana. Perjalanan menuju sekolah juga menjadi sukar, jalanan licin dan terjal membuatnya harus terus waspada.
Ia hanya berharap suatu saat bisa melihat sekolahnya berubah menjadi tempat yang layak agar anak-anak di antara gunung dan laut ini terbebas dari buta huruf.
Selain itu, dia berharap bisa diangkat menjadi ASN. Tentunya sebagai guru.
Arpiana bercerita, Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus bukan tak mau memperhatikan sekolah ini. Status lahan yang merupakan tanah milik masyarakat membuat pemerintah dilematis untuk menggelontorkan dana pembangunan, lantaran khawatir lahan tersebut sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh pemiliknya.
Berkat kesabaran dan tak pantang menyerah, setitik harapan akhirnya muncul. Kondisi memprihatinkan SD ini mendadak viral dibahas di media sosial. Semua bermula dari kepulangan seorang alumni yang telah belasan tahun merantau ke luar negeri.
Saat menengok sekolah masa kecilnya, ia terenyuh karena tidak ada satu pun yang berubah dari bangunan rapuh tersebut. Berbekal gawai, ia merekam kondisi sekolah, mengunggahnya ke media sosial, dan dalam sekejap cerita tentang sekolah jauh ini menjadi viral.
View this post on Instagram
Unggahan itu memantik simpati, salah satunya dari jajaran Kodim Tanggamus. Melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), para tentara berkolaborasi dengan relawan untuk membangun ruangan baru untuk sekolah tersebut.
Ruangan baru itu berukuran 4x9 meter. Diperuntuk dua ruang belajar, dan satu ruang guru. Belum terlalu mewah memang, tapi ini dirasa cukup untuk menggatikan bangunan lama.

Babinsa Cukuh Balak, Koptu Karmono, mengatakan, berkat cerita itu kini masyarakat bahu-membahu memperbaiki sekolah itu.
Hanya saja, Karmono mengakui bahwa medan menuju lokasi menjadi ujian terberat dalam proses pembangunan ruang kelas baru ini.
"Posisi sekolah yang berada di lembah membuat distribusi material bangunan sangat sulit. Apalagi kalau hujan, jalur distribusi jadi licin dan berbahaya," ungkap Karmono.
Karmono menegaskan bahwa keberadaan sekolah yang berada di tengah dua kampung ini sangat krusial bagi kebutuhan pendidikan anak-anak di sana.
Melalui sentuhan gotong royong TNI dan relawan, wajah sekolah yang semula memprihatinkan kini mulai berbenah.
Pembangunan fisik mungkin akan segera usai, namun keberlanjutan masa depan sekolah ini tetap membutuhkan komitmen jangka panjang.
Di sela-sela material bangunan yang sedang dirapikan, Koptu Karmono menitipkan sebuah pesan mendalam bagi pemangku kebijakan.
"Saya meminta perhatian lebih dari pemerintah untuk sekolah-sekolah seperti ini. Karena bagaimanapun juga, anak-anak di pelosok inilah masa depan negara kita," pungkasnya.
Kehadiran bapak-bapak berseragam loreng ini membuat Zahra, murid kelas 4 SD ini senang. Menurutnya, ini adalah mimpinya yang terwujud.
Dulu, ia selalu diliputi rasa takut tiap kali hujan dan angin kencang menggoyang atap seng sekolahnya. Kini, binar matanya memancarkan optimisme baru setelah ada program ini.
"Senang sekali sekarang sudah dibangun lagi oleh bapak-bapak tentara. Nanti sekolahnya pasti jadi lebih nyaman," ucap Zahra riang.
Cerita soal keterbatasan di Tanggamus tak hanya datang dari sektor pendidikan tetap juga soal angka kemiskinan.
Meski menunjukkan tren penurunan dari tahun ke tahun, angka kemiskinan di Tanggamus masih ada di angka 10,28 persen dari total penduduk Tanggamus 670.367 jiwa. Kemiskinan utamanya, ada di Pekon Kalimiring, Kecamatan Kotaagung Barat , tempat di mana sepasang lansia hidup di dalam rumah tak layak huni.

Dua pekan lalu, tim Kompas.com mendatangi rumah Sawin (70), Sarmenah (100), dan anak laki-laki mereka, Salia. Aroma asam dari biji-biji cokelat (kakao) yang dijemur di pelataran langsung menyengat hidung siapa saja yang melintas. Di belakang hamparan kakao itu, berdiri sebuah bangunan baru bercat hijau segar.
Rumah berukuran 5 x 9 meter itu kini kokoh berdiri dengan dinding fiber semen, fondasi beton, dan tiang-tiang kayu yang kuat. Bangunan ini terlihat sederhana, namun bagi keluarga ini rumah kecil yang baru selesai direnovasi itu sudah menjadi tempat yang paling berharga.
Di dalam rumah itu, kini terdapat dua kamar yang diperuntukkan ruang tidur dan ruang penyimpanan. Di bagian belakang, ada area dapur dan kamar mandi yang bersih di bagian belakang.
Kondisi ini bak langit dan bumi jika dibandingkan dengan yang mereka tinggali selama bertahun-tahun sebelumnya.
Sebelum dindingnya berganti fiber semen yang tertata rapi, rumah tersebut hanyalah gubuk yang disusun dari gribig (anyaman bambu) yang sudah bolong di sana-sini, beratapkan seng berkarat dan asbes seadanya. Sedangkan lantainya, beralaskan tanah.
"Dulu, angin masuk, hujan masuk, karena gribig-nya banyak yang bolong," kenang Sarmenah.
"Kadang ayam sama kucing liar juga bebas keluar masuk ke dalam rumah," timpal Sawin, sang kepala keluarga yang tak bisa banyak beraktivitas. Ia lebih lama menghabiskan waktunya di atas kasur.
"Dulu, angin masuk, hujan masuk, karena gribig-nya banyak yang bolong" -- Sarmenah.
Sejak tiga tahun lalu, ia sudah terbiasa dengan ini. Penglihatan secara perlahan memburuk sejak kecelakaan kerja yang tak sengaja.
Matanya terkena cipratan obat rumput (herbisida). Awalnya mata Sawin hanya memerah dan terasa perih. Karena keterbatasan biaya dan ketiadaan kartu BPJS, ia mencoba mengobatinya secara tradisional menggunakan air rebusan daun sirih.
Sayang, kondisi matanya justru kian memburuk hingga memicu katarak parah.
Ketika akhirnya ia sempat dibawa ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat.
Dokter angkat tangan karena kerusakan jaringan matanya sudah terlalu parah dan jika harus operasi, perlu BPJS agar terbantukan.

Sejak saat itu, dunia Sawin berubah menjadi gelap gulita. Ia yang dulu menjadi tulang punggung, kini hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan melangkah perlahan antara dapur dan kamar mandi, bertumpu pada sebatang tongkat kayu dengan tuntunan ingatan.
"Kalau keluar rumah, saya takut nyasar," kata Sawin lirih.
"Harapan saya sebenarnya masih mau berobat. Mata saya ini rasanya padahal terang, tapi kenapa tidak kelihatan apa-apa?" tambahnya.
Sawin dan Sarmenah adalah pasangan janda dan duda yang memutuskan menikah di usia yang tak lagi muda, dengan membawa anak dari pernikahan terdahulu.
Di usia senja ini, dengan kondisi fisik Sawin yang tak lagi bisa bekerja, hidup mereka sepenuhnya bergantung pada uluran tangan pemerintah lewat Dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan kebaikan anak-anak mereka yang tinggal tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Sedangkan kondisi Sarmenah, badannya bungkuk dan membuatnya sulit berjalan jauh. Telinganya juga tak mendengar dengan baik. Ingatannya juga sudah mulai terbatas. Ini yang membuat dia bahagia saat keluar rumah.
Titik balik nasib keluarga lansia ini bermula dari sebuah ketidaksengajaan pada 2024.
Saat itu, jajaran Kodim Tanggamus tengah menggelar program rutin "Jumat Berkah" bersama aparat desa Pekon Kalimiring.
Saat membagikan paket sembako, Babinsa Pekon Kalimiring dari Koramil Kota Agung, Sersan Kepala Imlan, tertegun melihat kondisi gubuk yang dihuni oleh tiga jiwa tersebut.
Hatinya terenyuh melihat dua lansia harus bertahan di rumah yang kondisinya sangat tidak layak dan rawan roboh.
Ketika program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dalam agenda TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Kodim Tanggamus digulirkan, Serka Imlan tanpa ragu langsung mengajukan nama Sawin sebagai penerima manfaat utama.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Awal Mei 2026, bedah rumah itu resmi dijalankan. Selama 13 hari proses pembangunan, Sawin, Sarmenah, dan Salia terpaksa mengungsi sejenak di rumah anak mereka yang berada di dekat sana.

Tentara bergotong royong membongkar gribig yang lapuk, meratakan tanah, mengecor fondasi, dan mendirikan dinding yang baru.
Kini, rumah hijau itu telah berdiri tegak. Tidak ada lagi angin malam yang menyelinap masuk dari lubang anyaman bambu, tidak ada lagi tempias air hujan yang membasahi lantai tanah, dan tidak ada lagi hewan liar yang mengganggu tidur malam mereka.
Bagi Sawin dan Sarmenah, di sela aroma asam biji kakao yang menguap di depan halaman, rumah baru ini adalah wujud nyata dari kepedulian yang hadir tepat pada waktunya.
Dilihat dari letak geografisnya, Tanggamus sebenarnya adalah daerah yang dikepung air. Hulu sungai di gunung tinggi dalam deret Pegunungan Bukit Barisan hingga bagian hilir yang ada di pesisir Teluk Semaka adalah kekayaan yang dimiliki Tanggamus.
Namun, kekayaan alami ini justru tak bisa dirasakan oleh warga. Benteng topografi yang terjal membuat sumber-sumber air terkunci dari akses pemukiman pelosok. Di wilayah ini, tantangan air bersih bukan karena ketiadaan sumbernya, melainkan tentang bagaimana menaklukkan bentang alam yang ekstrem demi mengalirkan kehidupan ke setiap rumah tangga.
Ini pula yang dirasakan warga Dusun Cisurum, Pekon Kalimiring, Tanggamus yang sangat menggantungkan hidupnya pada aliran sungai Kali Girang. Air dari sungai tersebut dialirkan lewat pipa yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat sejauh puluhan kilometer. Air itu lalu ditampung di menara penampungan (tower) desa. Namun, alam tak selalu ramah.
Menggantungkan hidup pada sungai berarti harus siap berkompromi dengan ketidakpastian cuaca.

"Dulu masalah utama kami di sini memang air bersih. Kami selalu ambil dari sungai yang ditampung di menara penampungan," tutur salah seorang warga, Rumiah (54).
"Kalau musim hujan tiba, aliran air dari sungai suka mampet karena material lumpur dan sampah. Sebaliknya, kalau kemarau datang, sungai langsung kekeringan. Debit airnya benar-benar tidak stabil," tambah Rumiah.
Kini, kecemasan itu perlahan hilang setelah TMMD Kodim Tanggamus memberikan fasilitas sumur bor bagi masyarakat.
Kini, Deretan ember kosong berjejer rapi dalam antrean panjang di depan sumur. Ibu-ibu yang membawa anak-anak tampak sumringah. Tidak ada gurat lelah, yang ada hanyalah tawa renyah saat mereka satu per satu sambil mengisi wadah tersebut dengan air yang jernih dan melimpah.
Bagi warga Dusun Cisurum, pemandangan di depan fasilitas sumur bor baru ini adalah sebuah kemewahan yang dulu sempat lama menjadi mimpi.
Air bersih yang mengucur deras itu kini menjadi nafas baru untuk menopang hajat hidup sehari-hari, mulai dari minum, memasak, hingga mencuci. Air bersih tidak hanya masuk ke dapur-dapur rumah tangga, tetapi juga ikut menyalakan dapur produksi UMKM lokal.
Dusun Cisurum dikenal sebagai salah satu sentra perajin gula kelapa. Di tangan para perajin, pasokan air bersih yang higienis dari sumur bor ini kini digunakan sebagai komponen utama untuk menggodok nira kelapa hingga memadat menjadi balok-balok gula kelapa siap jual.
Manfaat sumur bor ini meluap hingga ke urusan spiritualitas warga. Letaknya yang strategis—hanya berjarak sekitar 5 meter dari Masjid Nurul Iman, membuat geliat rumah ibadah itu kian hidup.
Supendi (40), seorang tokoh masyarakat setempat yang menjadi pengurus masjid, menceritakan bagaimana kehadiran fasilitas air ini mempermudah aktivitas jemaah dan warga sekitar.
"Air dari sumur bor ini sekarang kami gunakan untuk berwudu, membersihkan lantai masjid, dan yang paling penting untuk kebutuhan MCK (Mandi, Cuci, Kakus)," ujar Supendi.
Keberadaan MCK yang representatif di sekitar masjid ini, menurut Supendi, juga menjadi berkah tersendiri bagi para pendatang atau musafir yang sedang melintasi kawasan Kotaagung Barat.
"MCK ini penting sekali. Kalau ada orang dari jauh yang kebetulan lewat dan ingin buang air atau membersihkan diri, sekarang fasilitasnya sudah layak dan airnya bersih," tambahnya.
Kemudahan yang dinikmati warga Dusun Cisurum hari ini merupakan buah manis dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang digulirkan oleh Kodim Tanggamus.
Babinsa Kalimiring dari Koramil Kotaagung, Serda Slamet Agus Riadi, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program nasional TNI Manunggal Air.
Program tersebut dirancang khusus untuk memetakan dan membuka akses sumber air bersih di wilayah-wilayah pelosok yang selama ini mengalami krisis air.
"Awalnya kami melihat langsung bagaimana tingginya kebutuhan masyarakat akan air bersih di sini. Bersamaan dengan adanya program TNI Manunggal Air, kami langsung bergerak bersama warga untuk membangun sumur bor ini," kata Serda Slamet.
Perjuangan menghadirkan air bersih ini tidaklah instan. Para prajurit TNI bersama warga harus melubangi tanah hingga kedalaman 32 meter untuk menyentuh mata air terbaik.
Setelah titik air ditemukan, warga bahu-membahu memasang jaringan pipa paralon, menanam mesin pompa submersibel (sanyo sibel), hingga mendirikan menara toren air setinggi 3 meter sebagai wadah penampungan utama.
Seluruh instalasi kelistrikan pun dikerjakan secara gotong royong agar pompa dapat beroperasi penuh.
Kini, menara toren setinggi 3 meter itu berdiri tegak di Dusun Cisurum, bukan sekadar sebagai penampung air, melainkan sebagai simbol dari lunasnya sebuah penantian panjang warga akan air bersih yang stabil dan tak lagi bergantung pada amuk cuaca di Kali Girang.
Komandan Kodim (Dandim) Tanggamus, Letkol Inf Dwi Djunaidi Mulyono, mengatakan kehadiran TNI di tengah masyarakat adalah sebuah kewajiban moral yang mutlak.
"Sebagai aparat teritorial, Babinsa kami di lapangan terus memonitor apa yang perlu dibantu. Apakah ada warga yang kekurangan air bersih atau tinggal di rumah tak layak huni. Kami mendata, lalu bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memajukan wilayah tersebut," kata Dwi Djunaidi ditemui Kompas.com, Senin (18/5/2026).
Dari sekian banyak usulan, pilihan prioritas TMMD kali ini jatuh pada Pekon Kalimiring di Kecamatan Kota Agung Barat.

Menurut Dwi, wilayah ini dipilih setelah melalui koordinasi matang dengan pemda karena kondisinya yang benar-benar membutuhkan penanganan kompleks.
Di sana, masalah bertumpuk mulai dari krisis air bersih, banyaknya Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), hingga urusan jalan penghubung.
"Kami pun mendapatkan apresiasi atas kegiatan TMMD ini, selain infrastruktur kita juga kerja-sama, bergotong-royong, dan manunggal. karena kami lahir dari rakyat dan untuk rakyat," ujar Dwi.