
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SENIN dini hari, 25 Mei 2026. Como 1907 mengalahkan Cremonese 4-1 dan untuk pertama kali dalam sejarah 119 tahun klub itu, tim berjulukan I Lariani tersebut akan berlaga di Liga Champions.
Di seluruh Indonesia, media sosial meledak. Tagar Como trending. Orang-orang merayakan seolah timnas kita baru saja lolos ke Piala Dunia.
Tapi mari kita berhenti sejenak di sini. Apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?
Como 1907 adalah klub Italia. Dilatih oleh orang Spanyol. Beranggotakan pemain-pemain dari Argentina, Yunani, Perancis, dan Spanyol.
Bermarkas di kota Italia. Berkompetisi di liga Italia. Musim depan, mereka akan menghadapi klub-klub Eropa di panggung yang selama ini hanya bisa kita tonton dari jauh.
Yang Indonesia dalam semua itu adalah satu hal: uangnya.
Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono: dua bersaudara pewaris kerajaan kretek Djarum dan pemegang saham pengendali Bank Central Asia, membeli Como pada April 2019 seharga sekitar 850.000 euro, ketika klub itu bangkrut dan terdampar di Serie D.
Dalam tujuh musim, mereka mengangkatnya dari divisi amatir ke Liga Champions.
Pencapaian itu luar biasa; sebagai kisah bisnis, sebagai bukti kompetensi manajerial, sebagai studi kasus investasi olahraga.
Baca juga: Menanti Ketegasan Presiden
Tapi pencapaian bisnis keluarga Hartono bukan pencapaian sepakbola Indonesia.
Mencampuradukkan keduanya bukan hanya tidak tepat, ini menyesatkan, karena mengaburkan pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa kapital dan visi sekelas ini hanya bisa bekerja di luar negeri?
Indonesia adalah rumah bagi dua orang yang kekayaan gabungannya oleh berbagai lembaga pemeringkat ditaksir melampaui 40 miliar dolar AS.
Dengan modal itu, mereka membangun sebuah klub di Italia yang kini akan bersaing dengan Real Madrid dan Bayern Muenchen.
Sementara itu, tim nasional Indonesia belum pernah sekali pun lolos ke putaran final Piala Dunia.
Kedua fakta ini hidup berdampingan tanpa ketegangan, seolah-olah normal.